Menabung Membuat Anda Miskin!

Kisah ini pernah juga diangkat dalam tulisan dilarang menabung.

Tentu kita semua punya tabungan. Baik tabungan di celengan, atau dibawah bantal, atau bisa juga tabungan di bank. Andaikan hari ini kita punya tabungan senilai 1 juta rupiah, lalu kita biarkan selama satu tahun, apa yang akan terjadi ?

1 juta di celengan -> akan tetap 1 juta, kalau tidak ilang
1 juta di bawah bantal -> akan tetap 1 juta, kalau kita tidak lupa naro di bantal yang mana
1 juta di bank -> akan kurang dari 1 juta

dan apapun itu misalkan hari ini 1 juta rupiah dapat kita belikan 100 bungkus mie ayam, tidak ada jaminan tahun depan kita akan bisa membeli 100 bungkus mie ayam dengan harga 1 juta rupiah.

Lalu bagaimana menyikapi hal ini.
1. Menabung cocok untuk jangka waktu pendek, Investasi untuk jangka panjang.
Menabung adalah langkah kecil untuk akumulasi sebelum masuk ke investasi. Beberapa investasi semacam emas, atau property tidak bisa kita dapatkan dengan nilai yang kecil, sehingga mulailah menabung, lalu bertahap masuk ke investasi jangka panjang. Sisihkan paling tidak 20-30% penghasilan bulanan untuk menabung, yang selanjutnya diinvestasikan.

2. Ilmu menabung mudah, Ilmu Investasi sangat rumit.
Menabung itu sangat mudah, anak SD pun sudah bisa. Ketika Anda mulai masuk kedalam investasi, maka Anda harus mempelajari banyak hal. Belajarlah dari buku, internet, dan tentu yang terbaik adalah milikilah mentor yang sudah memiliki jam terbang tinggi baik dalam bisnis maupun investasi. Investasi terbaik menurut saya saat ini adalah bisnis dan property. Keduanya memiliki ROI ratusan bahkan ribuan persen.

3. Investasi terkait dengan waktu dan keberanian
Dalam setian investasi selalu mengandung faktor resiko. Ketika Anda buka bisnis, ada peluang rugi, barang tidak laku. Ketika Anda beli emas, ada resiko harga turun, ketika anda membeli property ada resiko tidak tersewa. Sesuaikan profil resiko Anda dengan portofolio Investasi Anda. Jangan sampai investasi malah membuat hidup Anda tidak nyaman.

Dan penting di ingat bahwa :

Investasi terbaik adalah ilmu pengetahuan dan networking

Pastikan Anda selalu mendapatkan info terbaru di bidang investasi yang Anda sukai, lalu jangan lupa bergabung dengan komunitas. Belajarlah dari orang-orang yang telah sukses di bidang tersebut. Jangan malu juga belajar dari anak-anak muda yang lebih sukses dari Anda.

Selamat berinvestasi!

Kenapa Income Naik, Tapi Kesejahteraan Turun ?

Tiap tahun pasti yang dinanti adalah berapa persen ya kenaikan gaji saya di 2015 ?

Tentu tergantung posisi, job desk, dan jabatan. Jika kita staff biasa, tentu mendapatkan income sesuai UMR merupakan penghasilan yang cukup baik. Kok baik ? ya, karena diluar sana tentu masih banyak karyawan yang belum mendapatkan gaji UMR karena perusahaannya memang belum mampu menggaji UMR.

Jika posisi Anda sudah lebih tinggi, biasanya diatur tersendiri. Artinya kenaikan sudah diatur melalui aturan perusahaan. Padahal kita tidak bisa mengatur harga beras, harga minyak goreng, harga bensin, atau tarif metro mini ya…

Nah, disini biasanya muncul dilema : “Tiap tahun gaji naik, tapi kenapa kesejahteraan makin turun”. Bagaimanapun juga kita harus sadar, di ekonomi modern ini ada pencuri uang yang tidak nampak. Siapa dia? Namanya INFLASI.

Inflasi ini tidak pandang bulu. Apakah kita orang pas-pasan, apakah orang kaya, atau orang miskin. Bahkan seringkali orang kaya lebih merasakan inflasi lebih parah. Saya ada teman yang karirnya moncer 5 tahun yang lalu langsung bergaya hidup metropolis. Mobil terbaru, ambil kredit furniturem dan hifi. Pokoknya apa yang dibeli selebriti dia kejar-kejar. Tidak peduli hutang dan gesek kartu kredit. Ketika perusahaannya mulai goyang, bonus dan komisi ditekan, terpaksa mobil di lelang, hingga akhirnya dia naik motor untuk ke kantor. Sampai akhirnya tidak cukup juga, terpaksa dia jual motor dan naik angkutan umum atau nebeng temannya ke kantor.

Inflasi membuat uang kita di kantong akan berkurang nilainya. Setahun yang lalu, saya masih bisa beli nasi goreng Rp.7000 / bungkus di Jakarta. Hari ini di warung yang sama, saya sudah harus menukar dengan Rp11.000 !

Artinya dalam 1 tahun saja, nilai uang saya tergerus lebih dari 30%

Sehingga benar kata nenek, Menyiapkan masa sulit di masa stabil sangatlah penting.

Kita tidak tahu, kapan masa sulit itu datang. Tetapi persiapan menghadapinya haruslah dilakukan. Kini menabung tidaklah cukup, tetapi kita sudah wajib hukumnya berinvestasi. Tapi tahukah Anda, disetiap inflasi itu ternyata ada kesempatan dan peluang-peluang besar!

Mau tahu ?

Caranya sebenarnya cari tahu saja, apa yang akan naik ketika inflasi itu terjadi. Salah satu pengamatan saya adalah “Property”. Salah satu sahabat saya, om Denny santoso juga mengingatkan saya bahwa salah satu investasi tahan inflasi adalah property. Beliau sendiri saat ini sedang mengerjakan Apartemen di kawasan alam sutra dan sudah sold out!

rumah kosSaya sendiri sedang membangun juga income melalui property dengan memiliki property sewaan.Dan Saya ada penawaran menarik untuk property yang dapat menghasilkan passive income secara rutin.

Apakah Anda mau ?
Silahkan tulis nama, email dan no hp anda dikomentar,
Saya akan secara pribadi menghubungi Anda.

Service Business

Apa bisnis anda ?
Menjual produk ?
Jasa yang dibutuhkan banyak orang ?

Ternyata apapun bisnis yang kita jalankan intinya adalah service, atau pelayanan. Kalau kata guru saya every business is service business.

Kita sudah memasuki era baru dalam berbisnis. Orang mungkin bisa saja membeli produk dari anda karena hanyalah anda sendiri yang menyediakan jasa / produk tersebut. Tapi itu dulu. Kini, orang memiliki banyak pilihan kepada siapa pelanggan ingin membeli produk yang dibutuhkan. Mereka tidak sekedar mencari produk, tapi mereka lebih mencari nilai.

50% calon pelanggan akan tidak melanjutkan pesanan, ketika pesanan mereka di cuekin oleh penjual. Saya juga sering mengalami hal ini. Misal beli makanan di warung yang sangat terkenal, sehingga sangat ramai. Pelayanan ketika tempat duduk penuh, tentu menjadi tidak nyaman. Saya cenderung pilih tempat lain yang lebih sepi walau mungkin rasa-nya berbeda.

89% pelanggan tidak akan melanjutkan transaksi atau tidak melakukan transaksi lagi jika memiliki pengalaman buruk oleh customer service. Ini sangat berbahaya sekali untuk sebuah bisnis. Karena pada dasarnya bisnis bukanlah sekedar mencari pembeli. Inti bisnis adalah mencari pelanggan yang bersedia membeli lagi, dan lagi bahkan merekomendasikan orang untuk membeli!

Ketika pembeli diberikan pengalaman unik dan menyenangkan, 70% mengaku akan membeli kembali. Coba bayangkan jika sebuah bisnis memiliki banyak pelanggan setia, maka tidak perlu lagi ada budget untuk pasang iklan. Anggaran bisa dialihkan untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggan setianya.

Apakah anda masih berharap orang membeli karena harga murah?
Lupakan!
55% orang kini memilih bersedia membayar lebih mahal, asalkan produk benar-benar berkualitas dan memberikan pelayanan yang terbaik. Jangan takut meningkatkan pelayanan, karena pelanggan sekarang sudah tidak lagi sensitif terhadap harga. Merena jauh lebih sensitif terhadap pelayanan yang buruk!

Ok. let’s improve our better service.

dapetin berbagai update menarik via google+ ayuk di add +annasahmad ya…..

Orang tua ikut anak, atau anak ikut orang tua ?

Pembicaraan menarik di minggu kemaren tentang keuangan keluarga. Ada istilah sandwich generation, yang artinya kira-kira orang yang harus menafkahi orang tua, dan disaat yang sama mereka harus membiayai anak-anaknya.

Benarkah saat ini banyak orang tua yang memberikan pendidikan pada anaknya, dan berharap ketika tua, orang tua ini bisa menggantungkan pada anaknya? Mereka lebih peduli pada pendidikan anaknya, dibandingkan dengan peduli pada kondisi financial mereka ketika pensiun ?

financial keluargaIni menarik sekali khususnya bagi orang tua.
Ada 2 hal yang penting, biaya sekolah anak dan biaya untuk pensiun. Mana yang di prioritaskan ?

Dari pengamatan saya pribadi malah berbeda. Banyak sekali saya malah melihat, bukannya generasi mudanya yang terbebani oleh orang tuanya lho, tapi malah generasi mudanya terus membebani orang tuanya karena tidak mampu bekerja dengan baik, atau gaya hidup mereka sudah berbiaya terlalu tinggi…

Sehingga, untuk saya pribadi, saya memilih lebih memprioritaskan investasi pada pendidikan anak. Jangan sampai anak ini membebani orang tua ketika dewasa. Dan tentu sebagai orang tua kita juga tidak berharap mereka akan membalas budi / uang yang sudah kita keluarkan untuk pendidikan mereka.

Bagaimana menurut anda ?

Cicil Investasi Anda

Berapa harga emas sekarang ? untuk 10 gram Rp. 4.800.000. Mahal!
Berapa harga reksadana ? sekitar Rp. 10.000.000. Mahal!
Berapa harga property ? apartemen-nya 3,5 M. Mahal!

Apa jadinya jika anda menganggap semua investasi dianggap mahal?
Dijamin anda tidak akan pernah memulai investasi.

Ini adalah kendala banyak orang : Mindset yang salah tentang investasi.

Investasi itu dilakukan kalau sudah punya uang,
Investasi itu dilakukan nanti saja,
Investasi itu mahal,
Investasi itu hanya untuk orang kaya,
dan banyak alasan-alasan lainnya.

Sedangkan tiap hari-nya, gaya hidup-nya perlente.
Gadget-nya keren. Nongkrongnya di cafe-cafe.
Penghasilan hanya pas untuk membiayai gaya hidup saja.

Inilah fenomena yang banyak kita temukan terutama di kota besar.
Kita mengabaikan menabung, menunda investasi, dan memilih untuk bersenang-senang.

Mindset Investasi
Apa sebenarnya investasi terbaik?
Investasi leher ke atas!

Ya, ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang investasi itu adalah investasi terbaik.
Kita harus memiliki mindset yang baik tentang investasi.

Investasi itu mudah
Investasi itu murah
Investasi itu penting

Menyicil investasi
Salah satu tujuan utama investasi adalah memenuhi kebutuhan di masa depan. Salah satu teknik paling mudah dalam berinvestasi adalah dengan menyicil. Sesuaikan antara kemampuan, dengan jenis investasi yang diinginkan.

Ada 2 investasi yang selalu menjadi prioritas adalah : investasi untuk biaya pendidikan anak, dan yang berikutnya adalah investasi untuk dana pensiun.

investasi cerdasAda hal yang paling penting sebelum kita memulai investasi adalah mengenali dulu gaya investasi yang cocok untuk kita. Ada orang-orang tertentu lebih senang dengan investasi yang bersifat aman. Ada beberapa orang yang bersifat moderat, ada juga yang memiliki gaya yang agresif.

Untuk mengetahui tipe investasi anda, kami akan mengadakan gathering tentang “Lebih Bahagia Dengan Investasi” di akhir bulan Desember 2013 ini. Sekaligus mengevaluasi kondisi financial kita di tahun 2013, dan persiapan menyambut 2014. Jika tertarik bergabung silahkan isi komentar di bagian bawah ini dengan format : NAMA_EMAIL_NoHP

yuk lebih bahagia dengan investasi!

Mau Investasi? Apa dan Bagaimana?

Mudik kemaren adalah kesempatan untuk silaturahim sekaligus belajar ilmu-ilmu penting langsung dari pelaku bisnis. Kesempatan untuk belajar langsung dari praktisi ini tentu langka. Jika kita ke toko buku, banyak sekali buku tentang investasi. Tapi mendengar, berbicara, dan melihat langsung bedanya adalah bumi dan langit!

Investasi = menentukan tujuan

Ini menarik sekali. Seringkali kita pengen investas seperti beli emas, beli saham, beli reksadana, beli tanah, beli rumah, dan banyak sekali jenis investasi-investasi. Tapi kita sering lupa apa sebenarnya tujuan dari investasi kita itu sendiri.

Mau kembali mereview kembali tujuan financial kita selama ini. Apa yang menjadi tujuan kita? Mau punya rumah? mau punya mobil? mau punya motor? atau untuk biaya sekolah anak? atau… untuk pensiun!

Menarik ya…

Menentukan tujuan itu mirip waktu kita kecil merenungkan tentang cita-cita kita nanti waktu besar mau jadi apa. Bebas berkhayal. Mau jadi apa aja boleh. enak tenan…

Sama halnya dengan menentukan tujuan investasi, apapun boleh. Nah jika temen-temen mau, tulis aja di selembar kertas, atau di catatan smartphone, apa tujuan financial kita. Ini saya beri contoh sederhana, misal :
1. Mau punya tabungan Rp 500.000.000
2. Mau berangkat haji / umrah
3. Mau memiliki rumah sendiri
4. Mau bersedekah Rp. 100.000.000

Good Goal is Smart Goal

Masih inget kan bagaimana cara membuat goal?
Ya, be specific!

buat tujuan-tujuan yang sudah kita tulis itu menjadi lebih detail.

  • Apa tujuannya ?
  • Berapa besar ?
  • Kapan bisa terwujud ?
  • Dimana ?
  • Dengan siapa ?

Be Focus

Selanjutnya adalah pilih salah satu tujuan financial mana yang kita pilih. Kenapa kok harus memilih? saya kan mau semuanya? Ini lah hidup, penuh pilihan. Kita tidak mungkin menjadi dokter dan pilot kan…

Dengan fokus pada satu tujuan financial, maka akan dengan mudah kita menurunkan menjadi langkah-langkah kecil dalam investasi kita. Misal sebagai contoh kita menentukan tujuannya adalah “Memiliki sebuah rumah di daerah grand wisata bekasi, dengan harga sekitar 900jt an, yang akan terbeli dalam 3 tahun kedepan”

maka dengan sangat jelas kita dapat menurunkannya menjadi :
– Sebuah rumah
– Harga 900 jt
– waktu perolehan 3 tahun

Wah ada yang kurang tuh, mau bayar cash atau KPR?
Mau cash aja deh…

Tinggal diturunkan saja lagi, berarti per tahun kita harus ada dana Rp. 300.000.000.
Jika kita turunkan lagi maka per bulan kita harus bisa saving Rp 25.000.000.

Investasi itu tergantung waktu

investasiNah ini dia, selanjutnya kita perlu pisahkan mana investasi jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Waktu itu menentukan jenis portofolio mana yang akan kita gunakan. Misalkan kita merencanakan dana untuk pensiun, yang kira-kira masih 20 tahun lagi, maka kita bisa tempatkan di portofolio jangka panjang seperti property atau tanah. Untuk saham juga cocok untuk investasi jangka panjang.

Investasi jangka menengah sekitar 5-10 tahun, kita bisa tempatkan di pos seperti reksadana syariah, atau juga pada portofolio emas. Sedangkan untuk investasi 3-5 tahun tergolong investasi jangka pendek, sebaiknya menggunakan portofolio yang relatif stabil dan mudah dicairkan.

Faktor apa selain waktu ?

Ada beberapa faktor lain yang perlu kita pertimbangkan dalam investasi, yaitu :
1. Growth
Sebelum berinvestasi, coba pelajari terlebih dahulu performa investasi itu beberapa tahun ke belakang. Seberapa besar kenaikannya? Apakah perkembangan nilainya bisa mengimbangi inflasi dan membuat tujuan investasi di awal kita tercapai? Contoh di property perkembangan bisa 20-500% per tahun, atau di saham sekitar 20-30% setahun, di emas sekitar 25% / tahun.

2. Income
Pilih investasi yang sesuai dengan income. Harapan ke depan tentu investasi kitalah yang memberikan kita income.

3. Risk
Dalam berinvestasi tentu ada untung dan rugi. Inilah yang harus di manage. Secara umum, investasi dengan nilai prosentase yang tinggi memiliki resiko yang lebih tinggi juga. Atau istilahnya “High risk High Gain”. Wajib untuk mempertimbangkan resiko atau kemungkinan terburuk yang akan Anda dapatkan dari investasi yang Anda pilih. Seringkali usia akan menjadi penentu, dulu waktu belajar tentang financial misalnya portofolio di saham boleh dimasukkan dengan prosentasi 100% – usia%.
misal usia 40 tahun, maka 60% masuk di profile resiko sedang-tinggi, dan sisa 40% bisa di investasi beresiko rendah.

Semoga kita bisa meraih tujuan financial kita ya…
Ingat jangan lupa bayar juga zakat dan sedekahnya !

Dilarang Menabung…

Semakin Makmurkah kita?

Kenapa pernyataan ini muncul?
Apakah karena ilustrasi turunnya nilai mata uang?
Apa yang menyebabkan nilainya turun?
Inflasi.

wah apa tuh?
sebenarnya inflasi ini sudah pernah kita bahas bareng tahun 2010. Ketika saya membaca buku conspiracy of the rich.

Sejak tahun 1971, uang tidak lagi didasarkan oleh emas. Artinya pemerintah (negara manapun) tidak harus lagi menyimpan emas sebagai jaminan diterbitkannya kertas yang kita sebut sebagai uang. Sehingga uang boleh diterbitkan sebanyak banyaknya. Sesuai hukum supply demand, semakin banyak ketersediaan, “nilai” nya akan semakin turun.

Kembali ke topik kemakmuran. Jika kita ingin lebih makmur, apakah kita akan berdiam diri? apakah kita berharap nasib kita berubah dengan mengharapkan pemerintahan ? Yang merubah nasib kita adalah kita sendiri. Jangan berharap pada makhluk. Berikhtiar dengan kerja, dan berdoa pada Allah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” QS 13:11

Salah satu ikhtiar dalam meningkatkan kemakmuran adalah JANGAN MENABUNG!.

hehehehe… ya, jangan menabung.
Menabung akan membuat kemakmuran kita semakin turun.
Akibat dari menabung adalah jika kita dulu dengan uang Rp100 ribu, bisa belanja satu kereta penuh, di tahun 2013, uang Rp.100rb hanya cukup untuk membeli 3-5 barang saja.
Ini adalah akibat dari kita berharap makmur dengan menabung.
Terbukti bahwa menabung memang tidak berhasil membuat kita makin makmur.

Masih ingat lagu ini?
————————
Jajan sih boleh saja
Sisihkan buat nabung
Belanja sih boleh saja
Tak lupa nabung
Asik asik deh

Bing beng bang
Yok kita ke bank
Bang bing bung
Yok kita nabung
Tang ting tung hey
Tau tau kita nanti dapat untung.

Dari kecil kita mulai menabung (menabung)
Supaya hidup kita beruntung (beruntung)
Mau keliling dunia ada uangnya (uangnya)
Juga untuk membuat istana (betul…….)
————————

Lagu menabung diatas memang hanya cocok untuk anak-anak saja.
Karena bergitu remaja menanjak dewasa kita harus belajar investasi lalu action untuk investasi.

Lalu apa yang perlu diketahui :
1. Menabung cocok untuk jangka waktu pendek, untuk akumulasi
2. Investasi untuk jangka panjang.
3. Ilmu menabung tidak sulit di cari, datang saja ke bank.
4. Ilmu Investasi sangat rumit. Harus mempelajari banyak bidang.
5. Investasi terkait dengan waktu
6. Investasi membutuhkan keberanian karena adanya faktor resiko
7. Investasi terbaik adalah ilmu pengetahuan. Kata TDW leher ke atas, bukan sebaliknya.

Ok, mari diskusi lebih jauh bagaimana pengalaman investasi sahabat sekalian?