Bagaimana bisa membuat bisnis kita auto-pilot

Setelah kita menemukan produk kemudian sukses memasarkan produk kita ke pasar, ada hal lagi yang penting menjadi catatan kita selalu pemilik bisnis. Apa tuh ? “bagaimana bisa membuat bisnis kita auto-pilot”

memang apakah penting bisnis itu jadi auto pilot?
coba simak kisah pak marno pemilik warung nasi goreng terlezat di tebet. Tiap hari beliau harus memasak untuk para pelanggan nasi gorengnya. datang paling awal, pulang paling malam. Tiap hari harus dikerjakannya!

emang pak marno tidak punya karyawan?
Jangan salah! beliau punya 9 pramusaji, 2 helper, dan 3 kasir lho!
Tiap hari warungnya bisa menjual ratusan porsi nasi goreng.

Emangnya gak bisa rekrut koki?
Pak marno sudah puluhan kali berusaha mencari koki untuk warung nasi goreng lezatnya, sayangnya selalu saja gagal. Beliau berusaha mendelegasikan untuk memasak nasi goreng kepada koki yang dibayar mahal, tapi begitu konsumen komplain, pak marno terpaksa harus turun tangan lagi dan lagi…

Sehingga bisnis nasi goreng pak marno sangat bergantung kepada beliau. Untung saat ini beliau terus gembira dan semangat untuk membuat nasi gorang. Tapi apa yang terjadi dengan waktu pak marno? lalu bagaimana jika suatu saat pak marno jatuh sakit?

Yuk…. Kita lanjutin pak warno yuk pemilik warung nasi goreng yang laris manis…

Suatu saat pak warno tersadar, setelah beliau ditelpon istrinya. Apa katanya? pak anak kita sudah lulus SD! hah…! perasaan baru kemaren bayi, eh hari ini kok udah lulus SD aja!

Sering kita menukar waktu kita untuk berbisnis. 
kita bilang pada suami/istri, bahkan anak-anak bahwa kita kerja keras, siang malam untuk membahagiakan mereka. Benarkah? Pak Warno merasa dia lama tidak menggendong anaknya, tidak bermain bola bersama. ada sesuatu yang hilang dan dia lewatkan. Dia tukar waktunya dengan uang.

Segera Pak warno tersadar, esok hari beliau segera buka lowongan lagi untuk koki nasi goreng. Seminggu berlalu kandidatnya masih jauh dari yang diharapkan. Ia tidak kehabisan akal, lalu keliling ke restoran-restoran terkenal dan hotel-hotel berbintang untuk mencoba masakan nasi goreng dari koki-koki kelas atas.

Setelah sebulan waktunya dihabiskan keliling mencari koki-koki, didapat 1 koki dari hotel bintang 7 yang lumayan rasa nasi gorengnya. Walau masih dibawah pak warno.

Segera dicari siapa kokinya dan ditawari untuk pindah ke warung beliau. Si koki pun bersedia asalkan penghasilan bulanannya tidak berkurang. Pak warno pun gundah, bagaimana dia membayar gaji sebesar itu? Ia pun bertanya pada sang istri, “bagaimana ma?” Ini adalah jalan yang dicari, take it or leave it.

bisnis autopilotAkhirnya pak warno pun merekrut koki bintang 7 untuk warungnya, lengkap dengan gaji bintang 7 nya. Seminggu berlalu datang komplain dari pelanggannya kalau rasa nasi gorengnya berubah! Pak warno pun turun tangan kembali ke dapur. Kembali memasak nasi goreng untuk pelanggannya!

Proses mendelegasikan itu ibarat seni.
Kita mungkin merasa hanya kita yang dapat melayani pelanggan dengan baik. Hanya kita yang dapat membuat nasi goreng ter-enak. Sehingga semua bisnis proses harus kita lakukan sendiri. Kita menjadi self employee di bisnis kita sendiri.

Yuk kita evaluasi, apa yang sudah kita lakukan selama ini, dan bagaimana cara agar kita tidak sekedar menjadi self employee, tapi berhasil menjadi bisnis owner yang memiliki waktu cukup untuk melakukan apa yang kita inginkan….

Jangan lupa follow @annasahmad ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s