Mau investasi? Pahami resikonya

Banyak dari sahabat-sahabat yang saat ini mulai tertarik ke dunia entrepreneur. Mulai dari karena mengisi waktu luang, mencari tambahan income, atau mulai jenuh dengan pekerjaannya. Suatu hal yang wajar entrepreneurship menjadi salah satu tujuan yang menggiurkan.

Kewirausahaan itu bentuknya berbagai macam. Kalau kiyosaki membeginya menjadi 4 kwadran. Kwadran kiri ada employee dan self employee. Di sisi kanan ada bisnis dan investor. Nah kali ini kita coba diskusi sedikit tentang investor ya…..

Kalau kita ke komunitas bisnis, atau datang ke pameran kewirausahaan banyak sekali jenis bisnis yang ditawarkan dalam model investasi. Misal peluang investasi lele, peluang investasi kelinci, peluang bisnis ayam goreng, investasi kopi instan, kayu jabon, apartemen, dan berbagai jenis bisnis lainnya. Yang perlu dikuasai oleh startup investor saat awal adalah 3 faktor kalau menurut saya, yaitu faktor knowledge, faktor waktu, dan faktor resiko. yuk kita bahas masing-masing.

Faktor pengetahuan
Seringkali dalam investasi kita lebih bersifat emosional. Terbujuk oleh yang menawarkan investasi. Misal dengan embel-embel syariah. Atau dengan menunjukkan orang-orang yang sukses di bisnis atau investasi tersebut. Dan sering kali menawarkan dengan model mimpi atau goal kehidupan seperti rumah mewah, mobil mewah. Padahal kita tidak memahami bagaimana model investasi tersebut bekerja dan menghasilkan profit. Di awal investasi kita memahami pola kerja dari bisnis yang akan kita investasikan. Lebih baik kita juga berinvestasi di bidang yang memang kita paham bisnisnya bahkan kita sedang menjalani bisnisnya. Misal ada tawaran investasi kayu jabon. Kita perlu mempertimbangkan masalah kepemilikan lahan, akses jalan, bagaimana bagi hasil dengan pengelola, siapa yang mengelola, bagaimana pengalaman dan track record pengelola, bagaimana nanti kalau panen, dan masih ada ratusan list yang harus di jawab.

investasi cerdasHal lain yang perlu dikuasai adalah masalah legal. Tahukah anda kontrak kerjasama atau bagi hasil yang diberi cap materai itu tidak ada artinya di mata hukum?

Pengetahuan ini sering diabaikan oleh faktor emosional, terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan tidak berpikir jangka panjang. Berakibat investor merugi.

Pengalaman saya pribadi menjadi investor yang akhirnya saat ini jauh lebih tenang dalam menghadapi berbagai tawaran investasi. Saya belajar jutaan rupiah untuk trial menjadi investor. Dan pengetahuan / pengalaman ini akan saya share ke pembaca blog ini.

Faktor Waktu
Seringkali yang menjadi konsen dari investor adalah dia tidak memiliki banyak waktu, tetapi memiliki uang. Tentu harapannya uang ini dapat dikembangkan dalam bisnis. Sayang kan kalau uang hanya nganggur di bank atau di bawah bantal.

Seorang smart investor haruslah selalu mengalokasikan waktunya secara periodik untuk mengevaluasi perkembangan investasinya. Jika investasi di property, tentu 1-2 bulan sekali melihat perkembangan wilayah dimana ada propertynya. Misal investasi di bisnis orang lain, tentu berikan waktu untuk datang, diskusi, dan melakukan audit bagaimana bisnis-nya berjalan. Jangan hanya karena percaya kemudian mengabaikan silaturahim.

Faktor Resiko
Seringkali investor lupa mengukur faktor resiko. Sehingga dia lupa bahwa di setiap investasi maupun bisnis itu ada namanya siklus. Misal kita investasi di kripik singkong. Ya, setahun terakhir bisnis singkong memang lagi booming. Apalagi misal ada brand yang naik daun, seperti maicih atau karuhun. Tentu banyak pemain bisnis pemula juga mengharapkan mendapatkan keuntungan dari trend tersebut. Padahal kita tidak akan tahu sampai kapan trend kripik singkong extra pedas itu akan berakhir.

Faktor resiko berikutnya adalah mengukur sejauh mana bisnis itu sanggup memberikan return yang diharapkan. Misal sebuah bisnis kayu jabon, dia akan panen katakan dalam 5 tahun, dengan asumsi harga jual. Tapi tahukah kita berapa harga riil harga jabon itu 5 tahun kedepan? tidak ada yang tahu. Dan disana banyak celah yang bisa mengakibatkan kerugian investor.

Resiko terbesar seorang investor adalah kehilangan uangnya 100%. Bisa lebih? bisa saja jika tersangkut kasus hukum bisa juga berakibat lebih fatal. Misal terkait kasus korupsi.

Nah disini pentingnya seorang investor utamanya pemula memahami pola-pola dalam investasi di bisnis. Banyak di sekeliling kita yang menawarkan berbagai investasi yang dikemas sedemikian rupa, sehingga sulit bagi investor berpikir lebih tenang dan rasional. Hindari berinvestasi karena emosional. Karena iming-iming return.

Pikirkan juga bisnis dimana anda berinvestasi. Misal bagaimana jika barang-nya tidak laku, pengiriman tidak dibayar, ternaknya sakit, pohonnya mati, dan berbagai hal lainnya. Lalu pikirkan juga bagaimana mengantisipasinya.

Semoga bermanfaat bagi yang ingin berinvestasi
Dapatkan artikel bisnis dan investasi langsung di email anda dengan mengisi form berlanggalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s