Apakah Anak-ku harus rangking 1?

Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

bannerkarrir

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.

Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
– Khalil Gibran

Kisah ini juga di tulis di beberapa milis.

Mau Seperti Reisa?

“Thanks to @oilrookiejkt for the VICO oil yg bagus banget. Selain bisa dipakai langsung, aman utk kulit bisa jg dipakai utk melindungi kulit sensitif kalau lagi mau oles minyak EO.
Reisabrotoasmoro, Host dr. OZ Indonesia

raisa vico bagoesemailmataharimall

467 pemikiran pada “Apakah Anak-ku harus rangking 1?

  1. yeah, pada awalnya kami tidak memberikan target pada anak laki-laki kami Saybia. kami cuma memfokuskan ke mapel matematika,bahasa inggris dan TIK agar survive di pendidikan indonesia dan masa depannya. dia juga boleh bolos kalau lagi malas sekolah. tp ketika dia ranking 1 kemudian turun ke ranking 3, ada rasa kecewa yg luar biasa. lalu kami beri insentif berupa voucher yg bisa ditukar dengan hadiah yg diinginkannya, plus membimbingnya belajar tiap malam akhirnya ranking 1 kembali diraih. kemarin tersadar ketika dia bilang “kalo gag ranking 1 lagi gag apa2 ya Abi Umi”. biarlah mereka menikmati masa sekolahnya tanpa target.

    1. Membolehkan anak bolos kalau malas ke sekolah rasanya tidak biajaksana.
      Sebagai ortu boleh mensupport anak2nya untuk melakukan yang terbaik, namun jujur bukan sekedar bertujuan untuk kebanggaan kita sebagai ortu.
      Menjanjikan insentif atau hadiah untuk memicu seorang anak untuk mencapai atau memenuhi kewajiban mereka adalah kurang baik. Akan lebih bijaksana memberikan reward sebagai apreasiasi apabila kita merasa anak2 sudah melakukan usaha yang maksimal.

  2. Sungguh menarik dan membantu orang tua dalam membesarkan anaknya.. Membantu orang tua berpikiran realistis dan tidak terlalu meletakkan ekspetasi yg terlalu.tinggi dan menganggap anakl sebagai asset iuntuk menjamin hari tuanya.. Terima kasih utk artikel yg bagus ini. Salam..

  3. Hari ini saya baru membaca tulisan yang begitu indah dan mengajarkan kita betapa berharganya anak2 bagi kita, mereka tulus mencintai dan menghormati kita sebagai orang tua dan menjadi teman yang menyenangkan bagi lingkungannya. Semoga anak-anak saya pun dapat menjadi anak yang soleh dan soleha.

  4. Plis deh , org yang rangking terakhir bukan jaminan untuk tidak menjadi sukses .. Tetapi yang paling dibutuhkan anak untuk bs menjalani hidup dengan baik adalah = Bisa berinteraksi dengan baik dengan sesamanya , apalagi menolong org , dan dilingkungan saya skrg .. Temen2 saya yang rangking terakhir ( hampir semua ) skrg menjadi Bos drpd temen2nya dl yg rank 10 besar , ini ada cerita nyata dan tidak ada sy rekayasa , semestinya anda harus bersyukur dan berterima kasih sama ALLAH karena telah mendapat anugerah yang begitu indah .. !!

    Salam hangat

    MASBRO

  5. benar sekali….ranking hanya lah penilaian akademik…namun kita juga tidak bisa mengesampingkan Ilmu yang diperoleh nya, karena itu adalah bekal untuk kehidupannya kelak…yang perlu kita lakukan hanyalah membimbing agar mereka bisa memaksimalkan potensi masing-masing. dan jangan lupa juga, Do’a orang tua juga sangat berpengaruh.

  6. Kini rangking di kelas sudah bukan sesuatu hal yang paling dibanggakan, anak yang disayangi dan disukai setiap orang adalah anak yang menentramkan setiap hati orang tua.

    Worth reading.

  7. Bagus skali dan sangat bijak bila kita bisa menerima anak2 kita apa adanya kita hanya membantu mereka u/ mengembangkan talenta yg sdh Tuhan taruh dlm diri anak2 kita, dan biarlah Tuhan juga yg menumbuhkannya.,

  8. Very good article…. Setuju banget ranking or prestasi di sekolah TIDAK menentukan keberhasilan di kehidupan, maka jangan cepat puas kalo anak2 berprestasi di bidang akademis saja…
    Btw Is it real life experience or fiction ya?

  9. kereeenn banget!!! iri deh dengan pemikiran anaknya ~ haha . Jadi penasaran anak nya seperti apa. saya menangis membaca ini T__T
    terimakasih sudah berbagi ceritanya.

  10. Sangat inspiratif..

    ini jokesnya
    Keterangan :
    A adalah anak yang ranking 1
    B adalah anak yang ranking 30

    B : Setelah kamu lulus kamu mau kerja dimana?
    A : karena aku ranking 1 trus maka aku mau kerja di perusahaan asing yg gajinya gede.
    Kamu sendiri mau kerja dimana ?
    B : Kalo aku ngga kerja dimana2. tapi aku mau bikin perusahaan asing tempatmu bekerja..

  11. saya masih ingat ketika saya selalu terpuruk di pelajaran, lalu saya mengambil jalan yang sama seperti anak itu.
    dan akhirnya saya bergerak lebih depan.
    terima kasih akang TS, akhirnya orang seperti saya diperhatikan dan tidak terus ditekan🙂
    salam damai B)

  12. Crita yg sangat inpiratif.ini mengingatkan saya akan orang tua murid yg ad d sekolah anak saya,kalo anak2 mereka tadi ny mendapat nilai 100 tiba2 d hari berikut ny mendapat nilai jelek orang tua ny datang dan mengomeli anak ny bahkan memukul anak ny.terkesan klo orang tuany tidak mau anak ny dapat nilai jelek,sungguh kasian anak umur 6 th, kelas 1sudah d tuntut orang tua ny untuk perfek dan saya hanya miris saja melihatny. Beruntung saya tidak memperlakukan anak saya sedemikian rupa karna saya percaya anak bisa dan berusaha akan ad waktuny biarkan mereka tumbuh dan berkembang sewajarny tanpa tekanan ini dan itu. Buat mereka akan lbih baik.tinggal kita orang tua mengawasi dan memberi tuntunan saja.
    Trima kasih.
    Salam,
    Margaretha ani

  13. banyak orang yang rangking teratas nasibnya tidak sebaik anak yang rangking nya biasa biasa saja
    hidup bukan sekedar mengejar nilai tapi hidup juga tetang memahami orang lain🙂

  14. Luar biasa cerita ini benar2 menjadi inspirasi saya dalam mendidk anak,bahwa rangking 1 bukanlah yg utama tetapi menjadi orang yang berarti dan disayangi orang lain itu lebih utama,makasih

  15. Anak adalah titipan dari اَللّهُ Swt. Kita sebagai ortu tugasnya hnya, menjaga, menyayangi, dan memberikan kebutuhan Ɣªήğ terbaik, termsk pendidikan. Masalah pintar atau tdk, kita sebagai orang tua tdk perlu memaksanya. Karena اَللّهُ tdk mungkin menciptakan manusia itu bodoh. Tinggal kita sebagai ortu n guru menggali ƪαǧî bakat/potensi anak2 kita. Jadilah ortu n guru sebagai tmn untuk mereka

  16. Very nice. Saya punya pandangan yang sama. Saya tulis juga.

    Saya terbahak mendengar lontaran seorang stand up comedian di saluran tv kabel. Si comedian, cewek asal america, enteng saja beropini, bahwa anak2 lah yang mengisi makna posisi ibu, “…u know… a woman becomes a mother… because of us, the children…, she actually needs us to become a mother…”. Hahaha, betul juga ya. Posisi kita sebgai orangtua ditentukan hadirnya anak2. Tanpa anak, kita hanyalah sepasang suami isteri. Tanpa anak, seorang wanita, bukanlah seorang mama. Hmm… Betapa penting dan bermakna posisi seorang anak. Namun betapa nai’if kita sebagai orangtua. Betapa sering kita takabur menepuk dada, angkuh menegakkan kepala, lupa diri seolah penuh jasa, seolah tanpa kita, anak tak berdaya. Padahal tanpa anak2, kita bukan apa2, kita bukan siapa2. Mungkin bukan saatnya memilah siapa lebih penting dari siapa, tapi siapa membutuhkan siapa. Sebuah keluarga, orangtua dan anak2, adalah sebuah entitas yang saling bergantung, saling mengisi & mencurahkan, saling berinteraksi & saling membutuhkan. Anak2 butuh bimbingan, perlindungan & tuntunan kita. Kita butuh anak2 untuk menerapkan semua ajaran itu. Tidak kurang, tidak lebih. Bukan harta atau kedudukan, bukan ancaman atau paksaan, yang mengikat sebuah keluarga, namun cinta, kesabaran, kerelaan dan pengorbanan. Di awal usia, anak pasti takut, karena penuh ketakberdayaan, tergantung kepada kita dalam semua aspek, sosial, finansial, maupun pskiologis. Namun seiring usia & kematangan, anak tumbuh dewasa & mandiri. Bukan saatnya lagi, kita menakut nakuti anak yang telah beranjak dewasa, bahkan telah pula berkeluarga dengan kisah si malin kundang, menuntut bakti yang masih dianggap setengah porsi. Bukan masanya lagi, kita mengungkit jasa yang kita ukir & pahat sendiri, menjadikan itu semua kisah basi yang membosankan.

    Betapa sering kita lalai. Kita bukanlah pemilik nasib anak2. Kita bukanlah takdir yang menentukan hitam putihnya jalan yang akan ditempuh mereka. Sampai kapan kita bisa mengikuti? Sampai sejauh apa kita bisa melangkah? Sebelum ajal menjemput di kala yang tak pernah bisa diterka. Seperti tutur Khalil Gibran, orangtua hanyalah busur yang membantu melontarkan anak panah. Kemana anak panah akan menancap, tergantung dari bentang sang Pemanah & kencang angin bertiup. Kita hanyalah busur, kita bukanlah penentu. Hormati anak2 kita, merekapun akan menghormati kita. Tak perlu harta, tak perlu ancaman, tak perlu paksaan. Cukup undangan penuh kerelaan untuk makan siang di hari minggu dengan lauk seadanya & sambal gandaria diulek sendiri. Ajak semua anak cucu, mengisi hari, merajut hati, dengan benang kesabaran, simpul ketulusan & bingkai cinta. Itu saja.

  17. Cerita yg luar biasa…..
    Rangking 1 bukan jaminan jd orang sucses mengapa kita sbgai orang tua terobsesi untuk itu,,,
    Biarkan ank tumbuh dgn potensi yg dimilikinya
    Di lubuk hatinya pasti jg ingin memiliki sesuatu yg bisa d banggaan…

  18. sungguh sebuah crt yg sangat baik utk mengingatkan ortu cara mendidik anak.
    Setiap anak punya dunianya sendiri kt hanya perlu mendukung n mengarahkan tanpa memaksakan kehendak

  19. Sy sangat terharu membaca pengalaman Anda tentang anak Anda. Memang Tuhan Itu Adil! Tdk menjamin Anak Ber Rengkeng mejadi Anak yg kelak Sukses! Sy dulu pernah sedih karna anak sy pernah tdk naik kelas! Namun sekarang dia panutan kel kita. Mudah2 semua ber jl Lancar. Terima Kasih Tuhan!

  20. Banyak para orang tua yg sudah salah dalam memberikaan bimbingan dan pendidikan yg mengharuskan target ini dan itu, seharusnya pada usia dini kenalkan pada Tuhannya dahulu, berikan contoh akhlak yg baik, bercerita tentang orang orang baik, selanjutnya kita hanya memantau, memberikan contoh pilihan yg sesuai kepada bakat anak. Biarkan dia memilih karena kita sudah membimbingnya. Tuhan Maha Mengetahui dan sudah menetapkan akan menjadi apa kelak. Orang tua hanya merawat, membimbing kearah yg baik. Terakhir do’kanlah buat anak anak kita agar sesuai perintah Tuhannya.

  21. Sungguh sangat inspiring sekali setelah membacanya, kadang kita lupa bahwa anak kita adalah titipan dan kita harus menjaga tiitpan itu agar kita bisa mempertanggung jawabkannya nanti kepada sang pemilik-Nya..

  22. Saya setuju sekali saya juga salah satu ranking ke 23 tapi kita juga tidak tau masa depan kita, nasib, rejeki, semua ada yang mengatur .. Yang jelas kita harus bekali juga dengan kepribadian yg baik ,aklak yang baik . Seperti yg di ajarkan orang tua saya. Hasilnya tetap menjadi ranking satu buat keluargaku… ‎​آمِّينَ

  23. Ketika membca ini, terlintas bgmana rasanya jdi seorg ank ¥ğ terus d paksa menjadi manusia sempurna, Pdahal ank2 tu sngat btuh zaman nya

  24. cerita yang sangat menyentuh hati pembaca, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. di dunia ini g ada yang sempurna, No Body Is Perfect.
    Biarkan seseorang menjadi dirinya sendiri karena menjadi diri sendiri adalah hal yang paling sulit dilakukan dan paling berharga

  25. mantap, terima kasih mas Bro….walau memang masih belum sepenuhnya terwadahi bakat-bakat terpendam dari anak-anak kita, apalagi di daerah (kabupaten yang jauh dari jakarta atau kota besar lainnya) namun saya masih tetap yakin mereka memiliki sistem untuk survive. Kita orang tua memang tinggal membangkitkan yang dia miliki, yang udah dari sononya dikasih.
    Ini juga pengalaman pribadi, ketika adikku yang dipaksa untuk nilainya selalu diatas rata-rata, padahal dia sangat suka dengan menari. Di daerah, dengan nilai yang minim dan ditambah hanya lulusan SMEA swasta yang sama sekali tidak favorit sangat sulitlah untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Peluang yang ada hanyalah pelayan toko, dan tentu saja bagi keluarga besar akan menjadi permasalahan, apalagi adikku adalah laki-laki. Gaya feminin memang tidak parah tapi ini juga menjadi permasalahan luar biasa bagi keluarga besar. Laki-laki menari??? adalah hal yang tidak disetujui dalam lingkungan keluarga kami.
    Lalu aku tawarkan dia untuk ke Jakarta, dan aku yakinkan kalau memang menari adalah cita-citanya, maka jangan sampai tidak ada hari tanpa menari. Mulailah dia melatih anak-anak kampung di Cibubur disamping rumah petak kontrakanku. dari situ berkembang dan sekarang bahkan dia bisa menghidupi dirinya dari hasil menari, bisa membayar uang kuliah di UNJ jurusan tari, pentas dibeberapa event nasional, dan sekarang saya minta dia untuk minimal 1 tahun sekali bisa pentas di negara lain. Alhamdulillah dia semangat untuk mendapatkan itu.
    terima kasih…terima kasih cerita Pak Anash menguatkan untuk bisa menghadapi anak secara lebih jeli dan teliti. semoga semakin banyak prestasi dibukukan dari semua sisi kehidupan ini. terima kasih pak anas

  26. Semoga kita menjadi org tua yg mengarahkan bukan memaksakan. Spt cerita seorang anak, temennya akan dimarahi ortu nya jika nilainya 9, org tuanya menuntut harus perfect. Dia bertanya ke temennya “kamu tdk dimarahi ummi mu jika dapat nilai 8?” , temannya menjawab ” ummi tdk marah walaupun nilai saya 5, paling disuruh belajar lbh giat lg”. “Enakya jd kamu, kalo saya papa marah kalo nilai saya 9”. Astaghfirullah, bagaimana perasaan si anak tersebut? Padahal kedua org tua anak tsbt. Org berpendidikan dan maaf bukan menyudutkan kebetulan kedua ortu anak tsbt berprofesi dokter, yg secara ilmu, tahu psikologi anak jika di tekan spt itu. Semoga kita menjadi org tua yg menjadi tempat yg nyaman bagi anak2 kita…

  27. subhanalloh… nangis saya bacanya. ini sama seperti kondisi adik laki2 saya yang memang “berkemampuan menengah” seperti si anak perempuan di atas, yang hanya mau menjadi “biasa” saja,kereeeen… :’)

  28. Plok…plok…plok…. 23x
    Asli terharu euuy… Memang ranking penting untuk melihat hasil belajar anak. Tapi yg lebih penting, membuat orang lain tersenyum adalah suatu kebanggaan. Ruar biasa ceritanya mas. Izin share ya…..

  29. Cerita ini membuka mata hati saya, yg selalu berharap anak utk menjadi yg terbaik, saya kadang bahkan bs diblg sering memasang target spy anak saya menjadi yg terbaik bkn krn saya malu krn dia tdk berprestasi tp lebih kepda masa depannya dan lingkungannya,saya selalu khawatir bagaimana dia menghadapi persaingan hidup yg sangat keras saat dewasa nanti ketika ia hanya menjadi org yg biasa2 saja dan kita semua tau kdg kita org tua menerima anak kita apa adanya tp dilingkungan akan timbul pergunjingan yg si anak bodoh lah apalah membuat anak menjadi rendah diri, tapi kita hars yakin setiap individu diciptakan Tuhan dg kelebihan masing2 jd skrg yg terpenting kebahagiaan anak2 kita,

  30. Biarlah anak tetap pada jalurnya. Jangan dia disuruh berlari kencang, dia akan capek. Biarkan berjalan pelan tetapi dia bisa menikmati pencapaiannya itu.

  31. Cerita Ɣĝ sangat bagus,dapat membuka mata dan pikiran para orang tua seperti kita2 Ɣĝ biasanya menginginkan anak2nya menjadi ranking 1 dalam pelajaran ϑî sekolah,,untungnya aku tidak pernah memaksakan kehendakku kepada anak2ku,,biarlah mereka menjadi apa Ɣĝ mereka inginkan,, kalau berkumpul dengan teman mereka suka menceritakan anak2 mereka,,dan aku Ĵчğå dengan bangga akan menceritakan bahwa anak2ku adalah anak2 Ɣĝ mandiri walaupun mereka masih anak2.. Terima kasih buat kisahnya..🙂

  32. makasih untuk ….ilmunya ya..bunda…memang terkadang kita memaksakan si anak unutk menjadi apa yang kita mau…tanpa kita berdiri dan berpikir sebagai “dia”….(ternyata bunda sama sepertiku mengagumi kahlil gibran…aku selalu bercermin [d tulisan ini…) tx ya bund…salam kenal

  33. Alhamdulillah, aku sungguh bersyukur dengan si kembarku yg sekarang sdh berusia 15 tahun (cowo). Mereka tidak ranking 1 tapi alhamdulillah akhlak mereka baik, perasaannya halus, care, rajin sholat dan ke mesjid. Alhamdulillah mereka tidak merepotkan sy sbg orang tuanya. Hidup sukses tidak hanya krn ranking 1. Semoga Allah selalu menjaga mereka dan anak2 yg lainnya… Aamiin YRA

  34. Subhanallah,,, pelajaran yang sngat brharga!! Betapa hati dan pkiran seorang anak bgitu hebat, namun kadang blum disadari oleh orng tua!!

  35. Bagus banget dan patut dibaca oleh orangtua,terutama oleh ibu-ibu yang suka marahin anaknya,kalo nilai ulangan anaknya jelek.

  36. saya sakit hati baca artikel ini…
    sakit hati karena sudah pernah mengabaikan keinginan tulus dari buah hati kami…
    terimakasih sudah diingatkan ya…

  37. Definately touching…sy jg sering sekali membandingkan anak sy dgn anak2 seusianya kok tmnnya sdh bs tp dy blm bs,ataupun anak sy sdh bs tmn nya blm bs..pdhl anak sy baru jg 2 thn lbh..🙂 sy cm khawatir sy kurang memberi perhatian padanya..tp senang sekali membaca artikel ini,membuat sy jd ingat lg utk tdk terlalu memaksakan anak sy utk hal2 yg sy inginkan..thank u pak sharing nya🙂

  38. saya mau bilang kisah ini MENGINSPIRASI SEKALI. Jadi ingat dulu waktu sekolah SD langganan juara kelas dan suatu saat turun jadi peringkat tiga sampai-sampai saya menangis seharian😀
    Tidak masalah sebenarnya jika orang tua menginginkan anaknya selalu berprestasi, tapi motivasi itu bukan dalam bentuk paksaan. Jadi memang benar kalau orang tua harus benar-benar mengerti karakter anak dari berbagai perspektif karena saya yakin bahwa setiap manusia di dunia ini selain di beri kekurangan juga selalu memiliki kelebihan.🙂

  39. subhanalloh… izin share ya bu…

    yup.. setiap anak punya bakat dan keahlian sendiri-sendiri… dan mgkn itu yang harus ditangkap oleh orang tua untuk mensuport semakin mengembangkannya…

    teringat dengan film Taare Zameen Par…

  40. Terharu, sangat menyentuh..
    cerita yang patut dibaca, terutama bagi para orang tua dan pendidik :’)
    saya izin share di mading kampus yaa pak?😀

  41. Alhamdulillah..sy bersyukur dulu ortu tidak pernah meminta sy untuk jd yg no 1. Bg mereka yang penting sy bisa melakukan yg terbaik walaupun tdk pernah menjadi yg terbaik..

  42. Sy jd ingt masa kecil sy, sy ank tunggal dgn kondisi ekonomi Ɣªήƍ mapan, tp sy juara brp pun, menang apapun di sgla kompetisi, tdk bisa buat ortu sy bangga, krn prestasti sy, msh dibwh mrka, krn mrka slalu jd trbaik di regional….

    Ɣªήƍ akhirnya buat sy frustasi, mnjdi ank paling badung di kelas,wlopun tetp ranking, Ɣªήƍ finalnya, sy pergi dr rumah..kuliah & menikah biaya sndiri tnp mrka….

    Smga sy bisa mengikhlaskn ank sy kelak tumbuh sesuai fitrahnya & mnjadi apapun Ɣªήƍ mereka mau, aslkn itu bisa buat mrka bahagia& brtanggung jwb, tugas kami, hy membantu mwujudkan, mndampingi, mengarahkn & mnjadi t4 trnyaman buat khidupan mrka…

  43. Makasih sudah berbagi kisah yang sangat inspiratif ini.
    Smg kita semua bisa menjaga amanah-Nya dengan baik sbg bentuk rasa syukur kita.

  44. Sungguh cerita yang luar biasa. Rangking 1 pada masa sekolah tidak menjamin orang sukses pada masa tua. Yang terpennting adalah bgm kita bersikap dalam hidupp kita

  45. Sangat menyentuh skl…sy punya anak spt ĩńĩ dari ƙέ 4 anak sy…ÿğ no 2 spt ĩńĩ sy hrs lbih banyak belajar lg dari pengalaman ĩńĩ…..

  46. Subhanallah… sungguh artikel yang berharga, mengingatkan saya sebagai orang tua bagi anak2 saya untuk bisa menerima anak apa adanya, karena pada hakikatnya anak merupakan titipan-Nya yang harus kita sayangi, kita didik untuk menjadi anak yang shaleh dan shalihah, … ‎​أَمِِيْن يَا رَبَّ العَالَمِينَْ.

  47. Maaf saya hanya ingin tahu, apakah ini fact, fiction, atau inspired by true event? Krn pengelompokan ini penting bg saya supaya saya dpt mempertanggungjawabkannya apabila saya menyebarkannya ke orang lain. Terima kasih

    Yudy Yunardy

  48. bagus banget…
    saya termasuk kecewa dengan sistem pendidikan di Indonesia yang terlalu membebankan anak dengan segala kurikulum.
    ketika mendaftarkan si kecil sekolah, hanya satu hal yang kami tekankan: kami tidak memaksa anak kami berprestasi disekolah, yang terpenting adalah dia menjadi anak yang baik akhlaknya ….

  49. Sanagt menarik dan jadi ispirasi untuk para calon orang tua dan jadi contoh baik untuk para orangtua… dan tentu saja jad nafas lega untuk orang-orang dewasa yang masa kecilnya hanya dikelas menengah… Salam…

  50. Suatu pegalaman yang sangat memberikan inspirasi dalam mendidik anak. Semoga para orang tua yang membaca artikel ini, dapat mengambil hikmahnya dan menjadikan acuan dalam mendidik putra & putrinya

  51. Saya seorang pelajar sekolah menengah pertama, boleh kah saya berkomentar?

    Jika boleh, perkenan kan lah saya

    Saya punya seorang teman yang memiliki talenta dari lahir dan dia pun sering sekali di cari teman sekelas ku untuk sekedar membantu mengerjakan pr atau bahkan minta di kerja kan dan dia menerima nya dengan senang hati

    Namun di balik itu semua dia sangat lah terkesan sombong, mata pelajaran selain bahasa inggris, ipa dan math nya sangat tidak stabil dan dia pun kurang memiliki etika yang baik

    Di balik itu semua kemampuan akademis bukan segala nya, kemampuan sosial nya lah yang sangat di butuh kan

    Kenapa? Tengok saja para koruptor di negeri ini yang menggunakan kepintaran nya untuk memperkaya diri sendiri dan menipu orang lain dan tengok juga para sukarelawan bencana alam dan donatur donatur yang membantu orang yang kesusahan, manakah yang lebih mulia?

    Pikirkan saja menurut pendapat anda masing masing🙂

  52. artikel yang inspiratif, mengingatkan bagaimana seharusnya kita menghargai keunikan dan keistimewaan setiap anak.
    Minta izin share ya… terima kasih

  53. setuju, rangking ga menjamin kesuksesan, saya ga pernahmenekankan anak harus rangking yg terpenting dia sudah belajar dg sungguh2 & optimal rangking hanyalah bonus bukan tujuan utama

  54. Subhanallah, sangat inspiratif, bercucur air mata saya membacanya, ya sebagai orang tua kita sering menjadikan masa lalu kita yang menjadi patokan, saya hanya ingin anak saya menjadi anak anak yang sholeh sholehah terserah dia mau jadi apa kelak dikemudian hari

  55. rasanya butuh keberanian besar bhw trkdg qta “berlebihan” dlm menekan anak qta..cerita diatas menarik u direnungkan..

  56. Suatu kisah yang sangat bagus dan berharga buat para orang tua, anak merupakan titipan dari Allah SWT yang harus kita tahu apa yang merupakan kewajiban dan apa yang merupakan hak baginya. Kita sebagai para orang tua sudah seharusnya tahu pada saat apa dan dimana harus menyikapi dan bersikap terhadap anak-anak kita. Terkadang memang kita selalu menuntut anak-anak kita agar selalu menjadi yang terbaik, tetapi terkadang juga kita lupa ” apakah sudah pantas anak-anak kita menerimanay ? ” Hal itulah selalu terabaikan oleh kita para orang tua. Setelah saya membaca kisah ini, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwasanya semua tujuan hidup ini ada proses dan tahapan-tahapannya, semua juga sudah ada pada jalur masing-masing tinggal kita sebagai orang tua yang harus pandai menuntun, membimbing, membina dan tidak bersifat memaksa agar tahapan-tahapan dalam proses itu tidak keluar dari jalurnya. Ingat! Anak atau buah hati kita adalah amanat atau titipan dari Allah SWT jadi haruslah kita tahu bagaimana amanat tersebut terpelihara dengan baik.

  57. Pelajaran buat saya, ‎​​​​​​‎​‎​‎​‎​​‎​​​‎​‎​‎​‎​​.·.†нªηк чöü.·. pengalaman yang berharga untuk dibagikan

  58. mantab sob ceritanya,terkadang kita belajar hidup dari anak2 kita bagaimana mereka memecahkan masalah dengan begitu sederhana,simpel dan sangat menyentuh hati.”inilah hidup. kita harus menatap ke depan dan berusaha untuk lebih baik. terimaksih atas sharingnya.

  59. Sy n anak sy jg mempunyai pengalaman yg sama.ketika SD slalu ranking ke 2 dari yg terakhir n asma kronik.dan yg ranking terakhir skarang adalah pengusaha muda jg pembalap yg cukup sucses,anak sy pun demikian memimpin 3pershn,jg merangkap dosen 2mt pelajaran di univ swsta yg terkenal.lulus master pd umur 23thn.juara taekwondo ke 2 pd pertandingan seluruh univ se queensland.ternyata salah 1 yg ranking 10besar menjd pegawai swasta biasa,penghasilan jauh dibawah anak sy..smua anak ada kelebihan n kekurangannya,dan memp rezki,takdirnya masing2.yg penting.Doa ibu n ayahnya tiap2 waktu.insyaAllah.tdk ada yg tdk mungkin.

  60. Terima kasih… Cerita ini menginspirasi dengan sangat baik.
    Insya Allaah, kami mendapat petunjuk-Nya utk menjadikan anak2 kami anak2 yang shaleh, Aamiin….

  61. Ceritanya sangat menyentuh, sehingga membuat saya sadar. Selama ini saya mendidik anak saya terlalu keras, ternyata saya salah. Terima kasih utk pelajaran yg sangat berharga ini.

  62. Cermin para org tua dlm memahami kuwajiban, hak serta hubungan trhdp anak….trmksh…cerita yg sangat inspiratif, Mhn ijin u menyampaikan k seluruh org tua/wali murid.

  63. subhanallah.. sungguh cerita yg luar biasa.. mengingatkan ku pd anakku.. ak jd sangat bangga padanya. terima kasih sungguh cerita yg luar biasa.. ijin share di FB ya

  64. Kisah cerita yg dpt menyentuh hati saya,yg dpt membkin air mata saya jatuh.dan yg pntng dpt mengingatkan saya utk menjalankan hidup kedepan lbh baik b’rsma klrga

  65. الْحَمْدُلِلَّهِرَبِّالْعَالَمِينَ anaku yoga tdinya rangking 3 klas 2 naik kekelas 3 dia mendapat rangking 12 الْحَمْدُلِلَّهِرَبِّالْعَالَمِينَ ,tdinya aku sempet kaget koq jauh amat turunnya ,tp G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ pa apa ,aku smpet kesel juga,mungkin dia terlalu lelah dgn les2nya,tp aku G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ terlalu ngoyoh apa yg akan didapat anakku,biarlah berjalan seperti air mengalir.dri cerita diatas aku sangat sadar dimana kemampuan anakku,aku akan ikuti selagi mampu آمِّينَ يَ رَ بَّلْ عَلَمِي

  66. Luar biasa, sudah seharusnya arahan orang tua lebih baik daripada memaksakan, biarlah anak anak menjadi apa yg diinginkan, dan orang tua hanya mengenalkan sebanyak mungkin yg namanya kebaikan. Hanya tetes air mata yg tertahan setelah membaca.

  67. Ceritanya bagus da semakin menyadarkan. Yah memang, ranking itu cuma buat orang tua ada bahan omongan di arisan😀
    Beruntunglah saya dibesarkan orang tua yang tidak mempersoalkan dan membebani ini itu ke anaknya, dan saya tengah berusaha menjadi orang tua yang baik pula bagi anak saya.

  68. Jadi inget sepupu nya anakku, sebut saja si B (6thn) yg diforsir dan dituntut buat selalu jadi Juara Umum di sekolah sejak umur 5thn, berhasil memang, B selalu jadi juara umum.. dan memang dia selalu ingin jadi juara umum.. Sepertinya tdk merasa tertekan dgn pressure yg diberikan orang tuanya..

    Jadi, apabila anak merasa senang dan memang berambisi jadi juara umum, gak salah juga kan? Meski pun kita sbg paman dan tante melihatnya anak ini kasian banget diforsir dan tdk seceria seperti anak2 lain..

      1. Luar biasa…ini mjd suatu pesan bagi saya utk mendidik anak scr lbh baik..tidak harus mendidik utk mencapai tujuan saya..tp mendidik anak untuk mencapai tujuan dan keinginan dia sendiri..izin share ya mas

  69. Cerita diatas sangat mengena sekali ∂ΐ diri sy, krn sy salah satu ortu sperti itu. thanks berat buat ceritanya sehingga membuat sy sadar bahwa selama ini sy hanya mementingkan ego sy tp tdk memahami perasaan anak sy

  70. di kampungku…Sumatera Barat,,ada pepatah “Alam Takambang Jadi Guru”..
    Pelajaran ttg hidup tidak akan kita dapat hanya di bangku sekolahan….tapi pelajaran ttg hidup ada di sekitar kita,,,apa yg kita liat, apa yg kita sentuh,,apa yg kita rasakan.
    dan pelajaran2 ttg hidup ini lah yg sebetulnya sangat menentukan kemana masa depan kita..kemana masa depan anak-anak kita.

    by the way, tulisan bagus bos.,,di bagian awal adalah cerminan banyak orang tua di Indonesia, memaksa anak utk menjadi apa yg kita (orang tua) inginkan..bukan apa yg terbaik utk anak.

  71. Entah kenapa, di awal membacanya saja saya sudah merasa dada ini bergemuruh, hingga di akhir tulisan tanpa terasa saya menitikkan air mata, teringat putri tercinta yang baru berumur 1 tahun. Dulu memang saya ingin putri saya menjadi anak yang sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tapi setelah membaca tulisan ini, terutam quote di akhir tulisan, saya kembali sadar, memang seperti inilah yang terbaik buat anak2 kita.
    Sungguh menginspirasi mas, terima kasih. salam hormat. Nadia

  72. ike it so much.. hehehe.. happen to me too… thx for this artice, has been re-shared by my FB friend. disisi lain kita push untuk mengeluarkan kemampuan anak yang terbaik, tapi di sisi lain mikir juga apakah kitanya udah kelewatan…

    jalan terbaik yang bisa kita lakukan adalah push anak sedemikian rupa, tapi dampingin juga ketika dia sedang belajar… jangan hanya menuntut tapi turun tangan juga…

    toh, kalau dia akhirnya nggak juara 1, at least kita dan dia udah usaha yang terbaik dan bukan karena kemalasan.. Anak saya dari juara 15, last semester juara 10…

  73. Setuju skali.. Setiap anak itu unik.. Kita orang tua harus menempatkan diri sesuai dg potensi anak.. Setiap anak pasti ada kelebihannya.. Kita harus bangga apapun kelebihan dimilikinya.. Setiap anak itu adalah titipNya.. Kita harus lindungi dan berikan kasih sayang yg sebesar-besarnya..amiin

  74. Menyadarkan kita sebagai orangtua untuk memahami hidup dan menyelami kehidupan dengan segala ketulusan…biarkan mereka jadi dirinya sendiri. Terima kasih share ceritanya

  75. Subhanallaah,

    ini yang sering saya diskusikan dengan istri di rumah,
    kadang sistem pendidikan kita masih terlalu menganggap nilai akademik adalah sebuah prioritas tanpa memperhatikan kemauan minat sang anak, hasilnya, yang banyak “diproduksi” adalah “karyawan”…

    tentang cita-cita untuk menjadi seorang guru TK, menjadi seorang ibu, ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Tidak mudah untuk menjadi seorang ibu, mengurus anak-anak kecil. Butuh kesabaran yang tinggi dan kelapangan hati yang tak berujung…
    ini benar-benar cita-cita yang sangat mulia, memang terkesan sederhana, tapi implikasinya dunia akhirat….

    Subhanallah, semoga anak ini kelak bisa menjadi kunci pintu surga bagi kedua orang tuanya… amin:)

  76. Alhamdulillah saya bukan tipe ibu yg memaksakan anak harus ranking 1…saya berkata ke putra saya bahwa bagi saya ranking itu tdk penting, yg penting adalah putra sy sdh memahami atau belum materi yg diajarkan di sekolah, dan saya jg tdk memaksa putra saya utk belajar tiap malam, tapi saya hanya ingatkan dia agar kewajibannya sbg pelajar dikerjakan ,spt mengerjakan PR dll. Saya tdk pernah memaksa putra saya ikut macam2 eskul, tapi saya berikan dia kebebasan utk mengikuti eskul yg dia senangi dan bs bermanfaat utk nantinya. Putra saya tdk mendapat ranking 1 di klsnya, hanya ranking 10. Tapi, alhamdulillah utk nilai kepribadian, kebersihan dan ketrampilan putra saya mendpt nilai A dan dia didaulat teman2 sekelasnya utk menjadi ketua kelas…Jadi menurut saya, biarkan anak kita berkembang sesuai keinginan dan hobbynya…org tua cukup berdoa, membimbing dan mengawasi anak kita agar tetap di jalur yg benar, Insya Allah anak kita akan berhasil…:)

  77. BRAVO!!!
    sy seorang guru, membaca ini memberikan inspirasi utk sy sbg pengajar. sangat setuju bhw nilai bukanlah segalanya tetapi sikap/perilaku yg menentukan baik tidaknya seseorang.

    seorang anak tidak selalu membutuhkan tekanan u/ belajar, tp jg butuh perhatian, penerimaan dari orang tua dan tentunya dukungan.

    sekali lagi, BRAVO!! it’s a great story to be shared.

  78. Kisah ini memberikan pelajaran yg luar biasa manfaatnya bagi semua orang, orang tua dan anak-anak.
    Bahwa tidak boleh memaksakan kehendak kepada org lain.
    Bahwa harus menghargai orang tanpa melihat kualitas pendidikan seseorang. Bahwa org harus rendah harti, dst.
    Saya akan sharing kepada anak2 saya, keluarga, rekan kerja dan para mahasiswa saya.

  79. Intinya kita sebagi orang tua hanya bisa membimbing anak kita. Bukan menjadi sesuatu yang kita ingin kan. Sebagi orang tua kita hanya mengarahkan impian mereka. Bukan menurunkan karakter kita, tapi kita membentuk karakter mereka. Sesuai dengan impian mereka

  80. nice sharing!!! i’m blessed… biarpun aku masih muda dan belum punya anak.. tapi aku juga guru yang punya anak2 yang harus aku ajar… nilai dan rengking bukan segalanya.. sejauh ilmu yang mereka dapat bisa membekali mereka di masa depan, mereka bebas menjadi siapapun yang mereka inginkan tanpa harus kita paksa…🙂 thanks for share

  81. Tulisan yang bagus, tidak berlebihan, apa adanya.

    Tanpa ditulis secara khusus seperti ini kita kurang menyadari keberadaan orang-orang special seperti anak ibu. Semua cenderung mengelu-elukan kepahlawanan, padahal banyak pahlawan yg rela tidak dianggap sebagai pahlawan😉
    Mereka rela bekerja tanpa tanda jasa meskipun sangat berjasa.

    lewat tulisan ini saya merasa malu,,, kadang saat si kecil menunjukkan suatu kepandaian sederhana saja saya sudah bertepuk tangan dan berbunga-bunga, sibuk menunjukkannya kepada orang2 sekeliling…. Saya perlu merubah kebiasaan itu (doakan ya!!) Biar anak-anakku menjadi kesukaanNya, bukan kesenanganku.
    Bless you😉

  82. Membaca ini terringat akan peristiwa tahun 2000-2006, anak perempuan ku yg besar. Dan anak laki-laki yang no 2 juga selalu ranngking 23-25 dikelas dari 40 siswa. Padahal aku dosen sedang S3 suamiku S2 dan kami adalah juara kelas mulai SD Sampe SMA bahkan suami ku juara umum di smp dan sma calon pelajar teladan sekotamadya. Cibiran tetangga di komplek yang anaknya sama sampai juga ketelingaku. Tapi kalau dirumah kedua anakku itu bisa bergaul rasa sosial tinggi sopan, bersahabat dan ramah. Mereka banyak tanya, berani berkenalan dengan tetangga baru sebaya kakek mereka atau sebaya papa mereka. Jika di ajak ke toko atau bank, anakku berani menegur Pak Satpam dan malah salim. Anakku tak mau les formal maunya privat, malahan yanak no 2 kalau les formal, jika jadwal les kata sopirku hanya nunggu di mobil saja, dengan ke sopir ku “om jangan bilang mama yah”. Memang ada rasa kesal, marah dan kecewa, tapi aku teringat dengan kisah keluarga ku. Adikku yang no 2 selalu underdogku hingga SMA, bakakku selalu bilang contoh ayuk mu (yaitu diriku) pinter dan segudang prestasi lainnya. Aku memang kebanggaan keluarga, masuk kuliah aku tanpa tes yaitu PMDK di Fakultas Pertanian, begitu pun suamiku PMDK Fakultas Teknik jurusan Kimia. Setiap ambil raport selalu terakhir. Bahkan pernah waktu mau masuk SD klas 1, krn dia belum bisa menulis dan membaca yg baik, sampe ingin ku turunkan TK kembali. Tapi di kelas 6 SD dia sudah berani jualan makan siang ke guru dan teman2, diriku dan pembantu membuat makanan dia yang mencari pelanggan. Dengan kepala sekolah dia akrab dan tetap hormat. Pokoknya di komplek kami dia terkenal karena ramahnya. Di restoran komplek orang tahu semua dengan anakku, suster rumah sakit di komplek kami juga. Namun dia selama SD dan SMP klas 2 dia tidak pernah masuk 10 besar. Malah selama SD ranking 23-25. Tapi kelas 3 SMP dia menjadi rangking 1. SMA dia masuk sekolah terbaik. Dan dikelasnya ranking 5 besar. Jiwa entrepreneurnya tumbuh pesat, sekarang dia klas 2 SMA sudah bisa menghasilkan uang dengan berdagang opn line. Dia pencetus majalah sekolahnya. Anak kedua 2 lebih parah lagi, karena semasa Hamilnya aku preeklamsi, usi kehamilan 7 bulan sampe lahir aku hanya boleh makan pisang rebus atau lukus dia lahir 2,1. Anaknya alergi telinganya tidak kuat. Dan kalau dikerasin gampang menangis. Tapi jiwa sosialnya sangat luar biasa, paling senang berbagi dan mudah iba. Yah kelas 4 SD Papanya dipanggil kepala sekolah, bahwa anak kami tdak cocok sekoalh disana karena tidak mampu. Yah kami pindahkan ke sekolah yag nbaru buka, dan anak kami berdelapan anak klas 4 pindahan dari sekolah lain yang dinilaio sekolah lamanya tidak mampu. Alhamdulillah anakku lulus SD, masuk SMP dan setiap mau ulangan pasti klami dipanggil guru. Tapi subhanallah sejak dia kurangkul dengan membacakan pelajaran di klas 3 SMP dia masuk 110 besar. Sekarang masuk SMA Favorit. Walau dia tidak cermerlang di Pelajaran Fisika. Matemtika Ipa dan bahasa, Tapi dia bercitaicita ingin jadi pengusaha kaya yang bisa membangun hotel sepeti hotel Mekkah Tower, Punya pesawat pribadi (karena cita2nya sejak keci ingin seperti bapak Prof Habibie, bisa bikin pesawat, sehingga kalau gurunya semasa SD marah dikelas (semua buku tulis dia coret dg gambar pesawat, dan kadang dia jalan2 dikelas dengan membentangkan tangannya seolah2 dia adalah pesawat terbang), makanya dia dikeluarkan dari sekolahnya. Belajar dengan kasus anakku makanya diriku tak pernah lagi memaksakan anaklku smenjadi seperti anak orang lain yang rangking 1, Mereka berdua ku semangati untuk menjadi ornag yang taat beragama dan bisa menciptakan lapangan lkerja / berguna bagi orang lain. Dan alhamdulillah anakku yg ke 3 dan empat, lebih baik. Bahkan yang no 3 sering membawa pulang piala ke rumah kami karena ranking 1 dikelasnya. Sampe sekarang kelas 2 SMP selalu ranking. Begitu juga anak ke 4 selalu masuk 10 besar. Yah pelajaran berharga bagiku adalah anak ke 1 dan ke 2, sehingga anak ke 3 kumasukkan SD usia 6 tahun, beda dg kakaknya usia 4.5 atau 5 tahun seperti diriku, bahkan aku tidak pernah duduk di klas 6 SD (tapi aku merasa rugi saat ini kemampuan ku berhitung hanya pas-pasan karena dasar perhitungan tingkat tinggi aku tak pernah dapati). Yah. Kita sebagai orangtua memang harus bijaksana, dan aku ingat pesat dokter kandungan ku tahun 1995, ingat yah, anak itu sukses jika iya menggapai menjalankan karier dengan menggapai cita-citanya yang dia inginkan bukan yang orangtua inginkan. Nasehat dokter tersebut selalu kepegang teguh dan ku sharing dengan banyak orang.Inilah sepenggal cerita panjangku. Semoga Bermanfaat. Terima kasih, Mas dengan membaca sharing ini aku juga brani sharing. Mohon Maaf Komentar ku kepanjanga.

  83. Kalau waktu bisa diputar balik, aku ingin anakku berkembang sesuai kemauannya. Bukan sesuai dengan kehendakku. Anak2ku adalah anak2 yang cerdas dan baik serta membanggakan hingga saat ini. Tetapi waktu mereka masih masa2 sekolah, astaghfirullah……aku menuntut mereka terlalu tinggi. Mereka bisa jadi ranking 1 dan kadang2 2 atau 3 untuk menyenangkanku. Ya Allah ampuni aku atas perlakuanku pada anak2ku. Terima kasih ya Allah, Engkau telah menjadikan anak2ku menjadi orang2 yang membanggakan saat mereka dewasa. Tetapi aku tidak tahu apakah mereka tertekan saat mereka masih sekolah? Maafkan ibumu ini anak2ku. Jangan lakukan hal yang sama pada anak2mu nanti. Semoga anak2ku nanti akan menjadi orang tua yang lebih baik dariku bagi cucu2ku. Aamiin.

  84. alhamdulillah, pagi-pagi dapat suguhan tulisan bagus seperti ini.🙂

    jadi ingat kakak yg sedang bermain bersama-sama temannya di paud dan adik yg sedang bermain bersama maminya di rumah, dua jagoan kecilku.

    terimakasih sudah berbagi.

  85. Cerita ini bagus sekali, sangat sejalan dengan pemikiran saya. Karena sekarang saya pun tidak bisa menjadi seperti yang orang tua saya inginkan. Tapi mungkin sekarang orang tua saya sangat bangga terhadap apa yang saya lakukan. Salam…

  86. nice story,
    menurut saya, nilai akademis — trutama di negeri ini — cuma omong kosong, saya dari tk-sd-smp-sma-kuliah ngga pernah dapet nilai bagus, tapi saya berpegang kepada apa yang pernah orang tua ajarkan kepada saya, bahwa saya lebih baik menjadi CREATOR…BUKAN FOLLOWER, dan saya memilih menjadi designer…walaupun saya kuliah di IT😀

    dan saya yakin, bahwa anak anda kelak, akan menjadi seorang pemimpin, entah di bidang apa nanti dia akan memilih🙂..kenyataannya di negeri ini, nilai 8, 9 atau sepuluh bisa dibeli dengan mudah, tapi original konsep ngga bisa dibeli, walaupun bisa dicuri oleh sebagian orang-orang yang kurang bertanggung jawab.

    regards.

  87. Menarik sekali tulisannya…sampai berkaca-kaca mata saya membacanya..alhamdulillah saya dibesarkan oleh ibu yang tidak memaksa saya menjadi no. 1 dan saat ini kedua putri saya bersekolah di sekolah yang tidak menerapkan sistem rangking. Seandainya semua sekolah tidak pake rangking, anak-anak pasti akan lebih berbahagia pergi ke sekolah..:) dan mereka akan lebih bebas mengembangkan minat dan bakatnya, bukan sekedar mengejar nilai akademis..

    Syukron,
    lelita

  88. Mas Anas. kebetulan saya punya spirit sama dengan anda.. Saling mendoakan semoga kita dan banyak lagi orang tua di negeri ini berusaha menempatkan anak-anak mereka pada posisi anak-anak. Yang masih berkembang dan akan terus berkembang selamanya secara alamiah.. Seumpama terpaksa anak kita mendapat rangking 1, 2 atau tiga.. nggak masalah. yang penting adalah pendidikan moral dan hati nurani. (hihihi.. jangan sampai kesannya rangking akademik baik berarti keliru)
    Prinsipnya tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik, menyiapkan anak2 kita menjadi manusia yang bermanfaat. Kalo ternyata secara akademik bagus.. itu adalah bonus… secondary target. Jangan sampai secondary target kita kejar mati-matian, primary targetnya (pendidikan moral dan hati nurani) terlupakan…
    Suwun…

  89. Artikel ini memang menggugah para ortu. Sejak (ahun 1980, saya selalu menganjurkan banyak orang untuk menyenangi buku2 kahlil gibran. Ada satu puisi bagus juga, “doa ayah” oleh jenderal Mc Arthur.

  90. Seberapa besar kemewahan yang ada didunia ini, tak akan ada yang dapat menggantikan seorang anak yang sholeh/sholikhah… Yaitu yang mendahulukan aqidah sebagai manusia daripada kemewahan duniawi.

  91. Terharu baca tulisannya. Memang berat hidup sebagai anak-anak dengan ekspektasi yang tinggi dari orang tua. Yang penting dari sekolah adalah anak mengerti ilmunya, bukan mengejar nilainya. Ijin share ya mas. And thanks a lot for inspiring so many people🙂

  92. cerita yang penuh hikmah mas, banyak insight yang saya dapat.. ngomong-ngomong 23 bukan angka yang buruk Michael Jordan pemain basket terbaik nomor punggungnya 23.. sukses terus ya🙂

  93. nilai bukan segalanya, nilai di kelas hanya nilai saja,begitu juga ranking.

    sebenarnya nilai dan rangking saja tidak ada gunanya,bahkan sejujurnya pelajaran sekolah selain yg paling mendasar juga tidak berguna.

    saya yg masuk sekolah desain sendiri, apa gunanya fisika,sejarah,kimia, matematika?
    tidak ada. selain hal yang mendasar, sisanya tidak terpakai.

    inilah kelemahan dari sistem sekolah di Indonesia, jangka waktu sekolah yang panjang di isi dengan materi yang memberatkan,membuat stress dan menghabiskan masa kecil seorang anak, menurut saya pelajaran sekolah terlalu dalam, seharusnya yang diberikan hanya bagian perlu saja, lihat saja sejarah hanya mengulang2 hal yang sudah dipelajari.

    pelajaran yang diperlukan sebaiknya diberikan pada kuliah saja,sehingga seseorang hanya perlu mempelajari hal yang nanti benar2 diperlukan di dunia kerja.

    saat saya kuliah,saya merasa masa sekolah itu hanya buang2 waktu, saya merasa sangat kehilangan.

  94. Subhanallah…….

    Rangking 1 disekolah ternyata bukanlah segalanya… tapi menjadi Teman No 1 (yang baik, sopan, mudah memberikan bantuan dll) mengundang banyak pujian dari orang sekitar kita. Khoirunnas anfuhum linnas…

    Kisah yang sangat mengingatkan kita semua untuk tetap menghormati keinginan anak2 kita. Karena sering kali kita memaksakan anak2 Kita untuk mencapai apa yang dulu mungkin tidak mampu kita capai.

    ijin share ya mas….

  95. Cerita yang sangat meyentuh…. bagi kami di masa anak-anak kita janganlah terjerat kurikulum yang tidak manusiawi di negri ini… jangan terjebak dan..mengambil masa bahagaia anak-anak kita…. dengan sistem rangking yang meyesatkan… setiap anak punya bakat masing masing yang telah Tuhan angugerahkan…kepadanya..peliharalah bakat dan hati anak kita dengan cinta…🙂

  96. Wow, bagus banget.. salut untuk anaknya yang berhati besar, dan tidak takut untuk tampil beda dengan anak lainnya, terlebih untuk orang tuanya yang juga berhati besar menerima sang anak dan tetap membimbingnya… salut! terima kasih telah berbagi cerita..

    ijin share boleh ?

  97. Subhanallah.. Sebuah tulisan yang memberikan banyak pelajaran… Saha dark away sependapt dengan penulis. Dan membebaska anak untuk menjadi dirinya sensual dengan potensinya dan berusaha untuk tidak menekanya dengan Harlan merely enjoy dalam melakukan segala Kebaikan dalam hidupnya… Thanks mas

  98. Mantap mas bro…seperti di sentil buat diriku, kebetulan anakku rangking 33 dari 40…sebagai orang tua sudah memasukkan les, tapi hasilnya pun belum maksimal….ijin share ya mas

  99. Benar” kisah yang sangat menyentuh,sudah selayaknya κίτα sebagai orangtua untuk Βïśα tetap mensupport semua cita” ‘ҋ keinginan αиǎǩ ‎​​ selama Ϊτϋ positive. Bantu αиǎǩ ‎​​ κίτα untuk Βïśα menemukan jatidirinya șέήđίяї Kǟяenà αиǎǩ ‎​​ adalah titipan Tuhan yang sudah sepatutnya κίτα jaga,terkadang dari αиǎǩ ‎​​ Ĵчğå κίτα Βïśα belajar bǟπчǟk Kǟяenà αиǎǩ ‎​​ bukan sekedar αиǎǩ ‎​​ tetapi disaat tertentu tanpa κίτα sadari ♏ƺrƺkǟ Βïśα menjadi guru bagi κίτα para orangtuanya,Kǟяenà ♏ƺrƺkǟ adalah cerminan jiwa κίτα,melalui αиǎǩ ‎​​ κίτα Βïśα belajar mengoreksi ‘ҋ merefleksi kέ diri κίτα șέήđίяї. GOΘ ΒℓΕSS ЧOU all

  100. terimakasih ceritanya. Betul- betul membuka mata untuk menerima seseorang apa adanya, untuk selalu bisa mendukungnya tanpa pamrih, dan mencintai dengan ikhlas. Boleh share ya

  101. Terharu membacanya,cerita yg sarat akan hikmah. Memang kecerdasan tidak hanya berasal dari sisi intelektual, namun juga bisa berasal dari sisi emosional dan spiritual, keduanya masih bisa dipotensikan secara optimal. Toh buat apa anak/murid kita cerdas intelektualnya, tapi kurang baik akhlaknya? Trima kasih sudah menginspirasi banyak orang tua. Izin share ke walimurid sy…

  102. Good story…. Semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya…. Yang selalu diingat adalah anak titipan Tuhan. Anak seperti kertas putih jadi apa dia tergantung kita yg menorehkan warna dikertasnya…. Semoga kita semua mampu menjaga titipanNya…. Aamiin….

  103. Good story…. Semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya…. Yang selalu diingat adalah anak titipan Tuhan. Anak seperti kertas putih jadi apa dia tergantung kita yg menorehkan warna dikertasnya…. Semoga kita semua mampu menjaga titipanNya…. Aamiin…. Mohon ijin nge-share di blog saya ya pak….

  104. Trimakasih infonya sangat bemanfaat U kami selaku orang tua,kepaklah sayap mu dan terbanglah,kasih sayang bunda akan menjaga dan menuntunmu…….
    Mohon ijin share Ϋªª……

  105. Saya sangat trharu mmbacany? Yg mmbkin sedih ap kh. Saya bs mmbhagiakn ank saya? Apkh saya bisa mndengrkn dy brcrt kegiatanny di sekolah saya seorng ibu yg mmpunyai seorg ank lakilaki pnderita tuna rungu, setiap plg sekolh saya selalu sedih krn ank saya tidak bisa mngungkpkn kejadian yg trjadi di skolah, dia hanya bisa menunjukkn hasil tugasny di sekolh dgn cr menunjuk2n kepada saya smbil trsenyum dan mencium saya, mnjkkn bhwa dy brhsil mnylesaikn tugas di skolah tnpa sepath katpun keluar dri mulutny hnya senyuman saja yg bisa di berikannya, smoga crt ini mnjdi motivasi lagi kpd saya agar bisa mmberikn yg terbaik untuk anak2 saya

  106. Sudah harus mulai disadari oleh semua yang merasa orang tua, bercerminlah pada diri kita sendiri sebagai orang tua, bijak Dan pandang sisi baik dari keterbelakangan karena Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihannya, yang artinya pasti ada kelebihan disisi lain, semoga dari gambaran itu kita akan bertambah bijak dalam membimbing anak-anak kita untuk menjadi jati dirinya, good luck…. thanks.

  107. Lansung menitikkan air mata,terharu sangat,lebih mulia menjadi pribadi yg jujur daripada menjadi org pintar tapi merugikan org banyak seperti sudah kebanyakan org skrg😦

  108. Bagus sekali. Semoga membuka mata para guru atau siapapun yg terlibat di bidang pendidikan.
    Saya dulu jg termasuk murid ranking menengah. Dan Puji Syukur kepada Tuhan, sekarang saya punya 1 bengkel furniture kecil yang bisa membagi berkat buat rata2 10 kepala keluarga per bulan..

  109. inspiring.. pernah ngerasain kok seperti itu.. cuman bedanya itu bukan dari orang tua yang harus ini harus itu.. tapi dari diri sendiri..
    kepikiran kenapa ya gak bisa seperti mereka? jadinya yak udah.. dijalanin aja apaadanya..
    toh sudah nyoba yang terbaik..
    makasih buat pelajarannya.. semoga kelak bisa jadi ortu yang baikk…
    ijin share ya…

  110. Mata saya berkaca kaca membaca tulisan anda, seya segera sadar akan apa yg telah saya tekan kan pada anak sya…anda luar biasa saudaraku.thx

  111. Subhanalloh sdh seharusnya kita memposisikan diri sbg orang tua,yg mengasihi n menyayangi mereka ,bukan sbg orang yg mencari kesalahan anak n menghukumnya slalu

  112. Very Inspiring, mengingatkan semua orang yang bersentuhan dengan anak. Tapi bukan berati pesan penting yang terselip dari kisah ini diabaikan: potensi anak baik itu kemampuan intelektual, sosial, spiritual perlu di stimulus. tak ada salahnya mendorong anak berprestasi di akademiknya lebih baik, apalagi kalau kita tahu ada potensi besar disitu. Tinggal masalah bagaimana mengemas stimulasi itu menjadi yang menyenangkan atau sebaliknya jadi segunung beban.

    saya pikr pesannya juga bukan berarti memberikan kebebasan ke anak seluas-luasnya mencari jalan sesuai kesenangannya. Sehingga tak apalah akademik jeblok, yang penting dia bagus secara sosial, etc. Saya pikir kalaupun ada orang tua yang terjebak secara sengaja atau tidak sengaja menstimulasi anak sedemikian kerasnya salah satunya karena sistem. Saya yakin begitu mebaca tulisan ini, semua orang tua dan guru akan tergugah hatinya untuk menjauhkan pemaksaan dalam bentuk apapun, terutama untuk urusan belajar si anak. tapi begitu berhadapan dengan sistem, ada benturan. Realistis saja, sistem pendidikan kita masih banyak mengandalkan angka sehingga untuk mendapatkan sekolah (yang katanya) bagus tetap berdasarkan nilai yang tinggi. dan itu dinulai sejak masuk SD sampai universitas. bahkan semakin kesini kompetensi berdasakan angka semakin ketat. Sistem rayonisasi, kuota, PMDK semua tolak ukurnya adalah angka. Undangan untuk bisa masuk ke Universitas negeri yang baik saat ini berdasarkan kuota, kuota terbanyak diberikan ke SMA yang reputasinya bagus. yang seperti apa yang nilai rata-ratanya bagus. Sekali lagi sistem.

    Belum lagi kalau kita bicara tentang kondisi anak dan lingkungannya. ada anak yang memang benar-benar perlu diarahkan supaya mau duduk belajar, minimal supaya bisa mencapai standar minimal di kelasnya. Ini terutama berlaku untuk anak-anak yang sangat sulit diajak konsentrasi, apalagi misalnya (karena pengaruh lingkungan) lebih gandrung nge-game/nge net ketimbang duduk konsentrasi mengerjakan soal-soal. Kenyataannya, setelah semua jurus manis keluar agar anak mau duduk konsentrasi sebentar, bisa jadi orang tua mengeluarkan jurus terakhir: kamu tidak malu kalau tidak naik kelas,bagaimana jika harus her dan sebagainya. Apakah orang tua akan mebiarkan anak duduk ngedisain gambar di komputer berjam-jam, padahal besoknya ulangan Bahasa Indonesia (dimana si anak nilai Bahasa indonesianya dibawah rata-rata). Apakah dengan memintanya belajar, si anak lalu merajuk , marah sebagai orang tua perlu merasa bersalah karena telah tidak memfasilitasi kehendak anak? contoh yang pragmatis memang, tapi jika ini kejadian berulang dan si anak memang demikian adanya, apakah orang tua perlu merasa bersalah mengarahkan dan akhirnya menyerah ya sudahlah ga papa nilai bahasa Indonesianya jelek, toh dia bagus kok di keseniannya. Padahal bahasa Indonesia salah satu syarat lulus UAN. again it is about system.

    Maaf bukan berarti saya bertentangan dengan nilai positif dari tulisan ini, saya hanya mengajak untuk secara bijak memahami tentang stimulasi kemampuan akademik itu sendiri. Tak perlu dinafikan, anak tetap butuh stimulasidi bidang ini. Bagaimanapun caranya, syukur-syukur sudah ada sistem selain menggunakan angka-tapi objektif. Tinggal bagaimana mengemasnya sehingga aspek anak yang lain tidak mandul. Then dengan segala upaya yang baik tadi bisa mencetak anak yang cerdas, berkepribadian baik, memiliki ketrampilan hidup yang baik dan yang penting memiliki akhlak yang mulia. amin.

  113. (seperti satu kutipan bicara ” tak ada yg berharga…selain hal2 yg bermakna”.) trimakasih utk artikelnya. tulisan yg bermakna….adalah sesuatu yg berharga.

  114. jika membaca awal tulisan, sepertinya ini adalah cerita pengalaman seorang ibu… padahal yang menulis adalah laki-laki, sehingga ada sedikit keraguan ini real life story atau fiction. but anyway, yang penting makna didalamnya… sangat setuju dengan pemikiran bahwa tidak harus selalu ranking 1 untuk menjadi orang sukses.
    semoga kita bisa mengarahkan anak-anak kita untuk bisa menggapai cita-cita setinggi langit seiring impian indah mereka.

  115. Ceria luar biasa… Menunjukkan pentingnya pemahaman bahwa kepintaran yg paling penting adalah pintaar hidup, atau kata lain menemukan jati diri

  116. Jadilah diri anak anda apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan,, terserah dia mendapat “rangking” atau “popularitas” di kelas. Hidup tak berhenti di bangku sekolah. Perjalanan masih panjang.

  117. Kadang sebagai orang tua menginginkan anakny selalu yg Terbaik ….padahal dengan segala kekurangannya …anak qt sudah menjadi yg terbaik …..tanpa qt menyadarinya ……

  118. Optimis n Humoris kunci ke sukses an .. Bukan hanya butuh kepintaran.. Tetapi kecerdasan dan relasi la yg menentukan masa depan

  119. Hamdalah…kisah yg bagus, jujur saya ingin anak2 menjadi yg terbaik disekolah dan dilingkungan tempat berada, tp tetap menjadi dirinya, krn sy yakin rangking disekolah bukanlah seratus persen gambaran dirinya. Mohon ijin utk dishare yaa. Jzklh

  120. Saya pernah mendengar salah seorang dari kelima khalifah sepeninggal baginda Rosullah SAW yaitu khalifah Syaiyidina Ali ra pernah mengatakan “Persiapkanlah anak-anak mu karena mereka akan hidup dijaman yang jaaauh berbeda denganmu”

  121. Aku bersyukur atas anugerah Tuhan yg telah memberikan kepadaku anak2ku yg terbaik dari Tuhan. Bagaimanapun, mereka adalah harta tertinggi bagi aku dan istriku…

  122. Cerita ini sangat menyentuh. Tapi saya menjadi kabur karena tidak tahu siapa penulis aslinya. Sekedar ingin bertanya. Sebenarnya siapa sih penulis asli kisah ini? Saya jadi penasaran. Karena dari alur ceritanya, semestinya yang bercerita seorang perempuan. Tapi ada di blog laki-laki. Hampir semuanya kisahnya di upload sekitar awal-akhir Februari. Apakah ini real story? Sebagian fiksi atau pengalaman pribadi. Hmmm…penasaran. Mohon pencerahannya.

  123. Starting hidup anak ini cukup baik bahkan ideal, ini suatu nilai budipekerti yg sangat tinggi, berbahagialah sebagai org Tua anak ini. Karena anak ini berhati emas.
    Tapi sy kurang sependapat dgn statment ” Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
    Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,”. Sy punya pendapat, Anak adalah amanah yg harus di emban oleh kita sebagai org tua maka sebagai keseimbanagannya kita bunya hak dgn batas batas tertentu, dan kita justur harus menyodorkan pikiran, konsep hidup dan arah hidup, bahkan terlebih soal Agama dan tauhid. Jagn sekali kali anda membiarkan anak tanpa pimbingan atau arahan. Bahkan boleh kita berusaha dan berusaha terus lalu memberi pilihan cita-cita sesuai bakat dan karakter anak kita yag sdh hrs kita kenal jiwa raganya. Ingat anda akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Sang Pemilik hidup… Ingat bolen berpikir Moderen tapi jangan terlalu MODERAT.. Bisa kebablasan… Jgn alergi jika dikatakan Konserfatip. … Tidak semua ketinggalan.. Dlm hidum ada banyak yg perlu Original…. Sebagai cth. Berikap bakti/santun terhadap org yg lebih Tua dan tentang Tauhid….

  124. Memang kadang kita selaku orang tua selalu menginginkan anak kita yang terbaik tp kita lupa memberikan yang terbaik untuk anak

  125. sangat memotivasi dan memberikan semangat. Saya mahasiswa yg tengah menyelesaikan skripsi dan ortu kecewa krn ip saya tidak cumlaude dan saya tidak bisa selesai 4 tahun,padahal banyak prestasi lain yg telah saya ukir selama kuliah hingga skala nasional tapi ortu tetap bilang saya mengecewakan.sayang yg membaca artikel ini bukan ortu saya. Tapi tak apalah. Pasti ada hikmah disetiap kejadian. Thanks 4 share😀

  126. Di raport anak-anak kami tidak ada rangkingnya. Kebijakan sekolah memang tidak memberikan rangking karena rangking bukan segala-galanya, setiap anak memiliki kelebihan sendiri-sendiri.

  127. Good ….utk semua orang tua. bimbing anak2 kita jangan kekang mereka tp masih tetap dalam pengawasan. Jangan hapus atau batasi dunia mereka hanya utk kepuasan orang tua.

  128. Anak saya ananda Faiq adalah anak yang Alhamdulillah ngak pernah menyusahkan orang tuanya dari masih kecil.. Sangat berbakti kepada saya,walau Faiq bukan anak perempuan tapi Faiq penurut n tidak banyak menuntut.. Semoga Faiq selalu berbakti kepada ortu sampai dewasa,saya ngak pernah menuntut anak untuk jadi Чğ nomor 1 hanya saya meminta untuk jadi Чğ terbaik sebisa Faiq n buat saya kesehatan Faiq nomor 1 diatas semuanya.. Love you nak..

  129. Cerita yg sangat menyentuh..membuka mata saya untuk lebih banyak mendengar keinginan anak bukan memaksakan keinginan saya..dan memberikan yg terbaik untuk anak kami nantinya..minta ijin share ya mas..

  130. Bagus banget cerita nya sgt membantu untuk lebih menyayangi anak ku Jonathan Wiliam Abraham dan membantu dia untuk mewujukan mimpi2xnya, aku akan menjadi orang tua yg mau menerima kelemahan maupun kelebihannya,thank you n God Bless you

  131. menyentuh,
    sungguh sebuah cerita yang memberikan kejutan hebat, yang mungkin saat ini hampir semua orang tua di Indonesia, mungkin di dunia, mengalami hal yang sama. ia tidak tahu ketulusan anaknya, menuntut banyak, dan bahkan seringkali menyalahkan anaknya; tanpa mau memperhatikan kelebihan yang justru menjadi potensi mulia si anak tersebut. semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi seluruh orang tua di dunia, aamiin

  132. Tq bgt sdh share this story, akan sy jdkan pedoman dlm mendidik ke 2 buah hati kami tercinta ( tangisku ta’ bs berhenti kr trus membayangkan kejadian2 swktu sy terlalu mempush anak lelakiku u/ lancar membaca )

  133. ! 100% mantaf!!!
    Wajar klo setiap orang tua menginginkan putra-putinya rengking 1, jika dah berusaha hasilnya biasa2 aja ya mungkin dah takdir……
    Ada tip, sebelum nyerah…
    sebelum masuk SD usahakan putra-putri kita sudah bisa membaca huruf latin +Arab, bisa menghitung sederhana +-x:, ajari doa2 sehari2, luangkan waktu berkomunikasi!
    insyaAllah putra2 sodara jadi rengking 1 sampai SMP

  134. aduhhh senang rasanya ternyata masih ada orang tua yg seide dgn saya…mengingat selama ini saya dianggap aneh oleh lingkungan saya karna masih tertawa tawa saat anak2 saya tidak mau belajar.sementara ibu2 yg lain sudah memarahi dan mengomeli anak2nya karna tidak bisa dapat rangking satu.prinsip saya lebih menekankan pada pendidikan mental dibanding dgn akademik seperti mengajari kejujuran,keberanian,kreativitas,tanggung jawab ,pantang menyerah dibandingkan nilai rapot 10 semua.saya sempat ragu …jangan2 saya salah karna tidak pernah tegas seperti orang tua di lingkungan sekolah anak saya.trimakasih sudah berbagi dan meyakinkan saya bahwa anak2 punya bakat yang berbeda beda sudah sepantasnya kita tidak memaksa dan membanding bandingkan dgn anak yg lain.

  135. ini true story?menyentuh sekali…mengingatkan saya pada awal anak saya masuk SD, meski tidak sampai sejauh itu yang saya lakukan, setelah tahun kedua terlewati, saya tersadar bahwa anak saya punya kecerdasan yang lain, sangat pandai membuat aneka robot, mobil dan bangunan lainnya dari lego. meski terlahir dari ayah dan ibu yang raportnya selalu ranking satu dulunya, belum tentu anak-anak kita terlahir dengan raportnya ranking satu pula. cerita seperti ini perlu di share untuk menyadarkan orang tua agar anak-anak kita tidak menjadi korban orang tua yang ambisius, semoga…

  136. Subhanalloh..aku hanya menangis dan tertawa..sambil aku bacakan di depan anak2ku dan juga istriku, semoga anak anak kita menjadi anak2 yg soleh dan solehah, jujur, baik hati, penuh kelembutan dan juga memberikan manfaat bagi dirinya dan lingkungannya, dan kita sebagai orang tua smoga mnjadi orang tua yang lebih bijak.amiin

  137. Wonderful story..
    Yang bisa saya ambil hikmahnya adalah..
    Bahwa setiap orang punya peran masing-masing dalam menjalani kehidupan ini..
    Menentukan pilihan dan menjalani pilihan itu dengan sungguh-sungguh dan iklhas lah yang paling penting..
    Because..for all the things that we gave and done..good or bad..it will eventually gave it’s reward.. sooner or later..
    It is what you did that will justify you.

    @yongkicoolbits

  138. Sangat menarik n terharu membaca kisah ne..n jd pelajaran bwt kt kdpan tuk mendidik anak2 agar sukses..tdk hrs rangking I..tanks ya n izin share

  139. Benar-benar membuat saya sadar, selama ini saya selalu ingin dan ingin anak saya selalu menjadi no.1 disekolah nya walaupun anak saya baru Nursery… Saya suka kesal jika dlm perlombaan anak saya hny dpt juara 3, skrg saya lebih harus bersyukur… Trimakasih untuk cerita nya… Sungguh membuat saya menjadi lebih bersyukur….

  140. Anakku 2 orang kakaknya cewek pinter, gesit, supel dan semua yg baik baik ada padanya, tapi anakku yg ke dua cowok tapi berkebalikan dg kondisi kakaknya, tapi aku berusaha utk menerima apa adanya.

  141. WaH ba9us ban9et ceRitanYa, PeNuH iNsPiRatiF n ba9us b9t buat diPraKteKaN seba9ai oR9tua, teRutaMa seoRan9 Bunda utK membeNtuK kaRakteR buaH HatinYa… ♧T♓ªΩk ¥☺ü♧ to ceRitanYa cuZ bs membeRikaN PeLaJaRaN peNtin9 buat oR9tua teRmasuK ɑƘΰ sb9i seoRan9 BuNda… MoHoN iJin utk saYa sHaRe Y… •.·.τнänκ (∩_∩) чoϋ.·.•

  142. Βεπεя ߪηĝє†,,, bagi saya,, anak ΐƭΰ τϊđακ perlu mendapat ranking 1 atau pun pinter ƴğ berlebihan,,.. ☂άÞĩ cukup mengerti ϑğπ pelajaran ϑαņ ªP̶̲̥̅̊ªªª ƴğ dipelajarinya,,, ϑαņ 1 ℓά̲ƍί ϑЎα cukup punya Hobby atau bakat,,, sebab kalau ϑЎα mempunyai suatu bakat, suatu saat Pαѕтι αкαη sangat berguna baginya atau pun bagi σяαηƍ lain…..

  143. hehe perkenalkan nama saya alin..
    sharing dikit.. saya waktu kelas 4 SD ranking 26 dari 33 murid di kelas..
    setelah lulus dari kuliah pendidikan saya, saya menjadi guru TK selama 4 tahun. Sekarang saya telah menjadi Kepala Sekolah TK dan bergabung dalam tim trainer untuk memberi pelatihan pada guru2 TK di seluruh Indonesia..

  144. hehe perkenalkan nama saya alin..
    sharing dikit.. saya waktu kelas 4 SD ranking 26 dari 33 murid di kelas..
    setelah lulus dari kuliah pendidikan saya, saya menjadi guru TK selama 4 tahun. Sekarang saya telah menjadi Kepala Sekolah TK dan bergabung dalam tim trainer untuk memberi pelatihan pada guru2 TK di seluruh Indonesia..

    saya merasa bangga untuk melihat murid2 saya berkembang dengan caranya sendiri tanpa paksaan akademis dari sekolah. mereka berkembang menjadi pribadi yang matang dan kreatif. Cenderung mandiri dan tidak tertekan dengan keharusan menghafal mata pelajaran yang mereka tidak mengerti🙂

    alin
    Sekolah highscope Pluit

  145. Err…ceritanya sangat menyentuh, sekaligus membuat iri. Banyak orang membayar sangat mahal untuk punya social skill seperti anak anda. Mungkin anak anda menjawab guru TK sbg cita2 krm belum tau profesi lainnya seperti public relation, customer service atau human resources.

    Tapi apaun profesinya, kalau dia ingin jadi ibu rumah tangga berarti dia melihat dr teladan ibu rumah tangga yang hebat: anda sendiri. Selamat :p

  146. Jadi ingat…
    Selama ini ortu-ku tidak pernah menarget aku harus bagaimana dan harus seperti apa.semua diserahkan padaku mau diapakan hidupku.yang dipesankan hanya aku harus bertanggung jawab pada hidupku sendiri.
    nyatanya sekarang ini alhamdulillah bisa “hidup enak”.
    mudah-mudahan aku bisa mempertanggung jawabkan ketiga malaikat kecilku…
    Amin.
    Terima kasih untuk inspirasinya

  147. Saya ingat, dulu saya selalu diminta jd yg terbaik. Walaupun orang tua saya secara halus memintanya. Ketika nilai matematika saya jelek (di bawah 5), saya ingat, ibu saya marah besar. Saya dimarahi habis-habisan. Saya trauma dan selalu mengalami gejala psikosomatis sampai sekarang kalau berhubungan dengan angka-angka. Apa daya, saya tidak bisa matematika, nilai 6 saya dapatkan dengan susah payah. Yah asalkan tidak ada nilai merah di raport.
    Sejujurnya, saya suka menjadi yang terbaik, tapi bukan di bidang eksakta, karena saya tidak mampu dalam hitung-hitungan seperti matematika.
    Alhamdulillah saya beberapa kali mendapatkan peringkat satu, masuk kuliah tanpa tes, dan beberapa kali mendapatkan beasiswa atas prestasi saya. Tapi demi Tuhan, saya ketakutan setengah mati kalau harus menghadapi matematika. Ingin selalu saya teriak, “Saya BUkan Superman, yg bisa mendapat nilai super di semua mata pelajaran, biarlah nilai matematika saya cuma 6 atau tujuh, asalkan saya bahagia dengan nilai bahasa inggris dan nilai pelajaran2 non eksak saya yang diatas 8”.
    Sampai saat ini saya selalu mencoba berbagai macam kegiatan untuk menyalurkan kesenangan2 saya yg tidak saya dapatkan semasa kecil, seperti coba-coba menulis fiksi (soalnya dulu saya kehabisan waktu buat les matematika dan pr yg bejibun jumlahnya), memasak, menjahit (dulu saya sering disuruh belajar dr pada memegang pekerjaan seperti ini).
    Kelak kalau saya punya anak, saya akan membimbing dia sesuai minat dan bakatnya, saya tidak mau anak2 saya kelak tertekan memenuhi standar prestasi yg tidak sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Semoga kelak ketika saya menikah dan punya anak, saya bisa melahirkan dan mendidik anak-anak yang bahagia dan berprestasi di bidang yang sesuai minat dan bakatnya msing-masing….

  148. Cerita Чάπĝ sangat menggunggah hati. Rangking 1 pun belum tentu ilmu asli dari otak (βϊșα saja dari hasil contekan), Semoga cerita ini βϊșα menjadi contoh Чάπĝ baik bagi setiap orang tua. Mohon ϑi share Ÿª . Terrima Kasih…..

  149. Nak jangan terlalu kau kuras energi mu, kalau kamu merasa sudah bisa dapat nilai 75 sebagai nilai minimum,berhenti dan bermainlah.

  150. Terenyuh coz saya guru Tk…
    Menangis ku baca… Guru pahlawan tanpa tanda jasa, tugas yg mulia, tdk kenal lelah, tdk sebanding dgn gaji yg ia peroleh… Bolehkah saya share….

  151. I highly hope people reconsider the true meaning behind term “hero” after reading this article, for both children and parents. Kebanyakan orang masih menganggap anak yang kelak memiliki pekerjaan “berdasi” atau gaji besar dapat dibanggakan / disombongkan, tapi jangan lupa seorang ibu, pekerja rumah tangga, buruh tani, tukang becak pun dapat jadi pahlawan dan dapat dibanggakan – tergantung isi hati orang tersebut.

  152. Ceritanya kerreen, walopun saya belum punya anak.
    hehehe… :p

    semoga ketika saya punya anak kelak,
    bacaan ini bisa saya jadikan acuan untuk mendidik anak.

  153. Cerita yang luar biasa dan bermanfaat, khususnya bagi orangtua yang memiliki anak termasuk saya. Terima kasih

  154. Andai semua orang tua bisa bersikap bijak dalam mengasuh anak2nya, tdk menuntut, tdk memaksa dan tangan besi, tentu dunia anak2 akan semakin damai, bahagia dan penuh warna ceria…

  155. Subhanallah….. pembelajaran berharga bagi orang tua….
    setiap anak pasti punya keistimewaannya masing-masing…. hanya saja kadang keisitimewaan itu tertutup oleh keinginan orang tua ingin seperti apa anaknya….. Mudah2an banyak orang tua yang membaca ini……

  156. Mas Annasahmad, cerita ini saya baca di link lain, sangat menarik dan menginspirasi.. Sengaja saya follow linknya ke alamat ini.

    Mohon dibaca tulisan singkat saya yang saya muat di kolom status facebook saya beberapa hari yang lalu. Saya memiliki concern besar akan hal ini, akan sangat menarik jika mas annas (dan siapa saja) mau berbagi lebih jauh lagi. Tulisan ini mohon maaf masih dalam bahasa inggris, jika tidak berkenan mohon dibalas agar saya bahasa indonesiakan. Salam hormat, kharisma.

    Dear Friends and Parents,

    This probably is your first time to hear about Exceptional Education. Exceptional Education is an enterprise concept that I am eagerly want to actualize. Exceptional Education born from a revolutionary concept of learning. I believe that Learning is a natural act of conduct as much as breathing does. Learning is an act that human does in order to fulfill their needs to grow (becoming a better person, being able to perform a new and improved task, understand new things and skills) and answering their natural curiosity.

    I believe that human mind consist of multiple intelligences rather that single unitary property. School and curriculum that generalized human intelligences and create linearity in education is no longer fit for the demanding era. Human is not general, human is symbiotically unique as we explore our talents and connected to our environment. By allowing human to follow their interest and learn in the way they learn best, human will tend to grow from their strength. As we live and learn independently, we will find our true deep intelligences and strength to find the reason of our existence. Exceptional Education is an education model that worked like a farmer and treat the learner in an organic process. We don’t predict what a learner will be. Just like a farmer we help families to create a fertile environment in which the learner will begin to flourish.

    Being educated is not about being an executive who sits behind the desk doing less effort and reaping profound money. It’s about living passionately, discovering their own talent and strength and figuring out valuable things out of it to be implemented and contributed to the society.

    Exceptional Education insha Allah will be an Institution that focus on helping families to let their children become an Independent Learner by providing proper media (learning kits) and services for parents.

    I am so excited to hear your ideas, needs, and thoughts.. What have been your real pain and suffering in the field of personal education and schooling?

    Please leave any comments, or reach me out at kharisma@the-exceptional-education.com.

    Cheers,,
    Kharisma

  157. Mas Annasahmad, ini tulisan lanjutannya, jika berkenan. Salam hormat, Kharisma.

    Menurut Victor Frankl, psikolog di era PD2, dalam bukunya Man’s Search for Meaning; kebanyakan orang saat ini sedang mengalami gangguan kejiwaan yang anehnya tidak mereka sadari. Penyakit tersebut dinamainya Existential Vacuum yang mungkin dalam bahasa Indonesia artinya kehampaan hidup.

    Existential Vacuum terjadi akibat hilangnya 2 hal yang sangat penting dalam diri seseorang. Yang pertama adalah hilangnya Basic Animal Instinct, keyakinan di dalam dirinya bahwa dia akan mampu bertahan dan mewujudkan impiannya dalam kondisi seperti apapun, ia kehilangan kepercayaan diri bahwa dia dan akalnya akan mampu mengatasi semua permasalahan yang dihadapinya. Mereka akan cenderung mengutamakan kepastian hidup dan menjauhi kesusah-payahan ketimbang mengejar apa yang benar2 diinginkannya dengan keyakinan akan dirinya sendiri.

    Kehilangan kedua yang dialami oleh orang yang mengalami Existential Vacuum adalah hilangnya kemampuan dirinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan, apa arti hidupnya, dan akhirnya tidak tahu apa tujuan hidupnya. Dalam hidup, mereka memiliki 2 kecenderungan; Meniru dan mengikuti jalan hidup orang lain, menyenangi apa yang orang senangi, bercita2 seperti orang lain. Atau, hidup sebatas menuruti harapan orang lain, harapan keluarga, guru, teman, saudara.

    Apabila kita mengalami gejala2 di atas, kita perlu waspada karena mungkin kita sedang mengalami Existential Vacuum
    tanpa kita sadari.

    Exceptional Education mengkorelasikan bagaimana sistem pendidikan telah menjadi salah satu penyebab terjadinya Existential Vacuum. Sistem pendidikan dan kurikulum yang melakukan generalisasi dan linearitas pada manusia telah menjadikan sangat sulit bagi seseorang untuk memahami dirinya, bakatnya, kelebihannya dan tujuan hidupnya. Karena manusia itu secara simbiosis unik. Unik karena kelebihan manusia merupakan kombinasi berbagai macam kecerdasan yang tingkat kedalaman masing2nya berbeda antara manusia satu dan lainnya. Dan seiring manusia bersimbiosis, berkomunitas, menjadi bagian dari masyarakat, apabila ia tahu apa kelebihannya sesungguhnya dan tahu apa yang bisa ia kontribusikan, manusia menemukan arti hidupnya yang sebenarnya. Karena hidup adalah perjalanan mengenal diri sendiri, kelebihan diri, kegemaran diri, dan menemukan nilai berharga di dalamnya untuk ia kontribusikan untuk masyarakatnya. Karena kepuasan hidup hanya akan dialami ketika seseorang menyadari bahwa dia sedang tumbuh (growing) dan berguna (contributing).

    Saya bersama Exeptional Education mengajak kita semua untuk menata ulang pikiran kita tentang pendidikan, menjadi bagian dari pembentukan sebuah konstruk pendidikan yang baru yang akan membantu semua pembelajar untuk mampu mengenal kelebihan dirinya dan akhirnya mengkontribusikan dirinya.

    Karena seperti yang dikatakan Abraham Lincoln pada saat perang saudara di abad 19: “Keyakinan yang kita miliki di masa lampau tidak lagi sesuai dengan kesemerawutan zaman. Masalah yang kita hadapi berbeda dari masa lalu, maka kita harus berpikir dengan cara yang baru, kita harus bertindak dengan cara yang baru, dan kita harus memerdekakan pikiran kita dari belenggu pemikiran yang lalu, sehingga kita akan mampu menyelamatkan masa depan kita.”

    Terima kasih untuk siapapun yang telah membaca, apalagi kalau sampai menuliskan pendapatnya..

    Salam hormat,
    Kharisma

  158. Tak peduli anak2 mau diranking berapa ajari dan tuntun dan arahkan serta biarkan anak2 berkembang sesuai bakatnya dan yg paling utama Anak2 Rangking 1 Amal ibadahnya sesuai tuntunan Alloh dan Rasulnya,, sehingga kewajiban kita sebagai orang tua untuk mendidik Akhlaknya dari kecil,, lah klu kita sibuk usaha,atau kerja,karir saja meninggalkan pendidikan anak2 dirumah dengan pembantu bukan dengan orang tuanya,,,juga bukan cara yg benarkan,,,?? So Kewajiban orang tua untuk menjadikan anak2 yg berakhlak yang baik tentunya dengan bimbingan dan didikan orang tuanya,,, ibarat kata Orang tuaku/ibuku pustaka ilmu pertama ku

  159. suka banget dgn bagian yang ini:

    ““Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

    Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

    jujur mata gw berkaca2 T________T

  160. Reblogged this on Ocehan Yulia and commented:
    saya belum berkeluarga (menikah) tulisan semacam ini membuat saya semakin banyak keinginan untuk belajar, agar tidak salah dalam mengasuh seorang anak (insya Allah ketika Allah memberikan kepercayaan kepada saya)…

  161. Memilik EQ tinggi dibanding anak2 lain mengejar IQ, tidak mudah marah salah satu tanda bakat natural kontrol emosi yg bisa berkembang setelah dewasa yang akan sangat bermanfaat

  162. Menurut saya sebagai orang muslim dan beriman kepada Allah. Saya percaya, setiap orang itu punya kecerdasan masing-masing dan tersembunyi. Bisa jadi saat dia malas di kelas tetapi di rumah belajar. Bisa jadi saat kita semua sedang tidur orang tersebut di tuntun Allah untuk belajar. Apapun hasilnya setiap orang itu cerdas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s