Inspirasi : small bisnis become great corporate

salah satu oleh-oleh mudik adalah buku karya joe kamdani, pendiri data scrip.

iseng-iseng hari ini browsing dan ketemu artikel lama yang tetap relevan, selamat belajar :

http://www.suarapembaruan.com/News/2002/02/03/Profil/pro01.htm

Joe Kamdani: Berhasil di atas Keberhasilan

Memulai usaha dari berjualan alat-alat kantor di Pecenongan, pada 1969, kini Joe
Kamdani (65) mampu memosisikan perusahaannya, PT Datascrip, menjadi perusahaan
yang menawarkan atau menyediakan solusi perkantoran.

oe menempuh perjalanan yang panjang. Dari era yang ia sebut one man show, 1969 –
1978, kini perusahaannya menjadi tempat bernaung hampir 400 karyawan dari
berbagai tingkatan. ”Dengan timbulnya era teknologi informasi (TI), kami ikut
arah yang baru karena perkembangan alat-alat kantor itu sangat dipe ngaruhi oleh
perkembangan TI. Kami harus ikuti perkembangannya. Kalau tidak, akan
tertinggal,” kata Joe.

Kesadaran untuk tidak mau tertinggal itu pula yang mendorongnya untuk mengubah
peran. Ia bukan lagi pemain sekaligus sutradara seperti pada saat mendirikan
perusahaan. Kini ia menjadi pimpinan yang lebih banyak mendengarkan opini
bawahannya.

Perkembangan usaha itu ia sebut evolusi manajemen. Ia membaginya dalam lima
tahapan. Pada 1992 – 1996 ia menandai evolusi itu dengan era manajer
profesional. ”Tidak seorang pun menjadi mahabintang sekarang. Kami bekerja
secara tim dengan bidang kerja dan tanggung jawab yang jelas,” Joe menambahkan.
Bahkan sejak 1997 hingga kini ia menandai evolusi manajemen dengan tahapan
enterpreneurship (kewirausahawan), tahapan pemberdayaan eksekutif.

Joe Kamdani menerima Pembaruan untuk berbincang-bincang di ruangan kerjanya yang
dihiasi beberapa patung kuda, pada pertengahan Januari lalu, sesaat setelah
terjadi gempa bumi berkekuatan 5,6 pada skala Richter.

Berikut petikannya.

Bagaimana sejarahnya mengawali usaha ini?

Latar belakang mengawali suatu usaha itu berbeda-beda. Yang pertama, orang
membuka perusahaan karena sudah punya perusahaan, sudah ada blueprint-nya, sudah
ada langganan, sudah ada segala sarananya. Unilever, misalnya membentuk Unilever
di negara lain. Itu jenis pertama, berlatar belakang perusahaan yang sudah
mapan.

Yang kedua, perusahaan didirikan oleh orang-orang terpelajar. Acer, misalnya,
didirikan orang Thailand, berlatar belakang sekolah teknologi informasi, bersama
teman-temannya dari bidang sama. Jadi, ada latar belakang pengetahuan.

Yang ketiga, membentuk perusahaan karena ayahnya seorang yang berkuasa. Misalnya
ayahnya gubernur, menteri, atau presiden. Tidak ada yang salah dengan itu,
karena legal. Mereka dihampiri untuk diajak membentuk sebuah perusahaan, tanpa
ada pengalaman, tak punya pendidikan, hanya punya koneksi di jalur otoritas.

Yang keempat, membentuk perusahaan tanpa punya pengalaman, tidak punya
pendidikan, dan tidak punya koneksi.

Nah, kami termasuk yang keempat ini. Memulai dari nol, tak punya apa-apa.

Kalau kemudian bisa bertahan sampai sekarang, apa kiatnya?

Harus bisa bertahan dalam situasi apapun. Di saat panas kepanasan dan di saat
hujan kehujanan. Sejak dari kecil saya terbiasa seperti itu, dan baru 32 tahun
kami bisa seperti ini. Berbeda dengan yang baru tiga tahun sudah langsung
berkembang besar.

Semua itu ditentukan kepekaan mengendus perkembangan di luar?

Tepat. Bagaimana merespons dan menanggapi. Kalau diam saja, kita tidak peka.
Jadi harus menyesuaikan diri.

Seberapa besar peran Anda di sini?

Peran saya berubah dari masa ke masa. Saya umpamakan perusahaan ini suatu
orkestra. Kalau masing-masing pemain bisa memainkan, barulah tercipta orkestra
yang indah. Kalau tidak, nanti seorang memainkan lagu Bengawan Solo, yang lain
Terang Bulan, yang lain lagi memainkan dangdut. Konduktor tidak bisa memainkan
alat musik yang begitu banyak, dia cuma mengarahkan.

Analogi itu sama saja di dalam manajemen bisnis. Kalau fungsi-fungsinya tidak
bisa dijalankan oleh masing-masing yang memfungsikan, si direktur akan
kesulitan.

Fungsi saya, bisa dianalogikan lagi dengan orang bermain sandiwara. Sandiwara
Sam Pek Eng Tay atau Macbeth, bisa bagus karena ada pemain, ada sutradara, ada
kisahnya atau skenario (script write). Kalau tidak ada itu, mau main apa? Kalau
pun ada aktor, ada kisah atau skenario, tetapi kalau tidak dilatih dulu, mainnya
pun bisa jelek.

Saya memulai sebagai aktor, pemain. Kemudian, berkembang menjadi aktor merangkap
sutradara, dan melatih anak-anak, dengan perintah mulut. Tetapi, karena sudah
banyak yang harus dilatih, tidak bisa dengan mulut. Harus menulis buku.
Manual-manual.

Saya menuliskan companies guide, companies manual (panduan perusahaan), sehingga
ada skenario. Begitu ada, tinggal mencari aktor, mencari pelatih. Aktor dilatih
berdasarkan panduan itu. Pada suatu saat penulis panduan tidak bisa main, tetapi
sandiwara jalan terus.

Kalau perusahaan sudah demikian, baru bisa tegar untuk berkesinambungan.
Kebanyakan perusahaan di Indonesia itu dimulai dari perusahaan keluarga atau
dari one man, seperti saya. Kalau one man, dia ikuti evolusi itu. Jika panduan
perusahaan tidak ada, manajemennya tidak ada, perusahaan itu akan hancur pada
generasi berikutnya, karena tidak dipersiapkan.

Generasi berikutnya itu bukan berarti anak saja, tetapi tim secara keseluruhan.
Itulah generasi penerus saya. Anak hanya salah satu, itu pun kalau ia memegang
suatu jabatan di perusahaan ini. Jadi, tidak semudah itu mengadakan job
delegation(pendelegasian kerja). Regenerasi jauh dari sekadar job delegation
tadi.

Filosofi yang Anda canangkan lebih banyak berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan?

Pengalaman itu tidak akan ada kalau kita belum mengalami. Nah, karena gagal itu
mahal, sebaiknya jangan mengalami sendiri. Jangan kita belajar dari kegagalan
kita.

Kalau bisa belajar dari kegagalan orang lain. Kasarnya, suruh saja orang lain
mengalami dulu, baru kita belajar dari dia. Memang tidak bisa dihindarkan kita
punya pengalaman sendiri, tetapi sebanyak mungkin belajar dari pengalaman orang
lain, baik yang sukses, maupun yang gagal.

Saya memulai tanpa pengalaman. Kerja saja. Dari kerja memperoleh pengalaman.
Dari pengalaman, mempelajari apa yang benar, apa yang salah, dan apa yang perlu
diperbaiki. Itu berkembang terus. Sambil jalan melihat pengalaman orang lain.

Itu gunanya sosialisasi, pergaulan, berbicara dengan yang lebih berpengalaman,
yang lebih pintar. Kalau berbicara dengan orang yang pengalamannya di bawah kita
dan kurang pintar, you give but you don’t get (hanya memberi tanpa pernah
memperoleh).

Sejarah penamaan Datascrip?

Pertama, perusahaan ini didirikan dengan nama PD Matahari. PD itu perusahaan
dagang.

Nah, nama Matahari itu juga ada dasar filosofinya. Matahari itu tenaga, sumber
energi, sumber kehidupan. Saya juga lihat matahari sebagai jantan, sedangkan
bulan saya lihat sebagai betina. Tetapi, saya tidak bisa memakai nama Matahari
karena sudah ada PT yang memakai nama itu. Saya harus cari nama baru. Saya coba
membaca terbalik, Irahatam, kok nggak bagus.

Saya punya bayangan lagi sesudah itu. Perusahaan itu ingin saya jadikan
perusahaan yang terkait dengan bisnis. Jadi, namanya juga bukan sekadar nama.
Akhirnya muncul nama Datascrip. Data and scrip. No meaning, tetapi berkesan
sebagai perusahaan yang tidak berkaitan dengan dunia hiburan.

Kok no meaning?

No meaning. Saya tidak memerlukan arti nama itu. Yang memberikan arti itu nanti
karyanya.

Dengan optimistis?

Itu selalu. Hari ini saya ulang tahun. Pagi-pagi saya datang, bawa cokelat,
karena anak-anak (karyawan, -Red) menunggu cokelat itu. Setiap salaman, kasih
cokelat, semua tingkatan. Lalu pukul 12 siang kami makan. Saya memotong kue
besar.

Pertanyaan saya pada waktu itu: pernahkah saya bermimpi untuk hal ini? Memotong
kue ulang tahun pada umur 65 tahun, dihadiri oleh semua staf, di gedung yang
mewah? Pernah nggak saya bermimpi seperti ini?

Sama sekali tidak pernah terlintas?

Saya harus mimpi. Saya mimpikan itu. Justru mimpi itu hidup saya, tetapi saya
tidak hidup dalam mimpi. Mimpi itu yang akan saya lihat, yang orang lain belum
bisa lihat. Kalau orang tidak punya itu, orang tidak akan maju. Itu adalah visi.

Hidup tanpa mimpi akan bosan. Tetapi, jangan hidup dalam mimpi.

Tiap hari saya memimpikan sesuatu yang baru. Saya bermimpi suatu saat saya punya
perusahaan besar, punya karyawan banyak. Saya mencintai karyawan dan karyawan
mencintai saya.

Di ruangan ini banyak patung kuda. Apa arti kuda bagi Anda?

Saya lihat kuda itu binatang yang tidak galak. Lain dengan macan. Kuda itu teman
manusia, bekerja keras, elegan, hidup berkelompok, dan mainnya di luar.

Saya suka melihat kuda berlari-lari di luar.

Anda banyak membaca buku filsafat?

Kalau banyak membaca buku saya idak bisa mengelola karena saya akan diam di
kamar, membaca buku.

Saya tidak banyak membaca buku, tetapi saya banyak berpikir. Kalaupun baca buku,
hanya bab yang penting, lainnya saya kembangkan sendiri.

Tetapi berpikir pun tentu ada landasan berpikirnya?

Ada. Saya banyak berpikir, why am I doing this (mengapa saya melakukan ini)?
Kalau saya ada keputusan A, saya bertanya sendiri mengapa saya tidak memilih
yang B? Jika saya memilih B, apa yang terjadi, dan apa yang harus saya kerjakan
selanjutnya? Itu berkembang sendiri. Baca buku itu bagi saya hanya konfirmasi.
Saya lihat banyak kesamaan dengan yang saya pikirkan. Kalau cuma baca buku, saya
tidak bisa ketemu staf saya. Saya hanya jadi seorang profesor.

Kembali lagi, Anda bertahan karena persaingan di bidang ini sedikit atau karena
hal lain?

Macam-macam. Kiatnya cuma bertahan. Misalnya dengan mengurangi penghasilan
karena ongkos-ongkos naik. Di lain pihak, memperbaiki servis. Kalau bisa, tidak
ada yang PHK. Kita pertahankan. Cuma untuk itu harus efisien dalam bekerja.
Kalau efisiensi tidak ditingkatkan, ya mati.

Berarti transparansi ke bawahan sangat penting?

Ya dong. Transparansi itu hak. Transparansi buat kami itu suatu motivasi bagi
karyawan. Tentu saja pada masing-masing kepentingan. Kepada siapa kita
transparan untuk suatu masalah. Tidak semua harus menjadi telanjang. Anak kecil
pun kalau telanjang, juga tidak baik.

Ada yang perlu diutarakan?

Kalau dalam bisnis, yang perlu saya utarakan adalah berhasil di atas
keberhasilan. Ini berlaku untuk siapa saja. Kalau di dalam kebugaran jasmani,
olahraga itu it is a way of life. Tidak bisa berhenti. Harus dipertahankan. Saya
pernah sampai 75 kg, sekarang 70 kg. Kalau tidak berlatih, bisa kembali ke 75 –
80 kg. Itu terasa berat bagi saya. Begitu stop, begitu jadinya. Saya punya
pandangan hidup: menjaga kebugaran sangat penting.

Pewawancara: Nuke Ernawati – Sotyati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s