Sharing TDA Jaktim : mengelola keuangan

menarik sekali membahas masalah keuangan. seringkali kita sendiri tabu membicarakan masalah omzet, keutungan, apa lagi kerugian 🙂

dan sering juga kita tidak merasa perlu untuk mengatur keuangan. buat laporan keuangan buat apa? yang penting tiap bulan gak tekor yang penting ada untung, cukup buat makan ini…..

ternyata sikap-sikap diatas adalah barrier terbesar dalam bisnis kita. yang membuat bisnis kita hanya disitu-situ saja, atau yang lebih berbahaya jika bisnis membesar, perputaran uang besar, ternyata kita tidak sadar banyak piutang tak terkendali, hutang jatuh tempo, biaya overhead membengkak, dan tak lama bisnis ambruk, konsumen mulai tidak terurus akhirnya terjebak hutang. tragis ya…..

Sharing bareng Bu Srikurniatun di TDA Jaktim kemarin membuka mata teman-teman pentingnya laporan keuangan. Walau cuma sekedar jualan selimut, jualan jamu lamandel, bisnis bikin website, bisnis desain, kita harus mempersiapkan bisnis kita untuk maju. Pertanyaannya adalah mau profit berapa sih sebenarnya? 1 juta? 2 juta?
atau punya target 500juta setahun misalnya?

Kunci intinya adalah di konsistensi dan kesadaran. Banyak dari kita yang sudah sadar tetapi kurang konsisten. Beberapa tipsnya adalah :
1. Buat catatan kecil, rekap di spreadsheet
2. Sadar jika kita berbelanja, setiap air mineral yang diberi juga termasuk cost
3. Mulai mencari karyawan khusus masalah keuangan (bisa mulai dari part timer dulu)
4. Beli software atau cari yang open source
5. Mulai membuat bussiness plan dan strategi tertulis
6. Tentukan tujuan keuangan – Cari tahu arahnya – Monitoring dan Evaluasi
7. Menggaji diri kita sendiri dengan fix cost atau % dari profit

Ibu Srikurniatun, melalui bukunya cara “cerdas dan cerdik mengelola uang” banyak memberikan panduan sederhana bagi kita bagaimana mewujudkan impian financial kita. Mau berangkat haji, mau beli rumah, mau beli mobil? Tetapkan dahulu goal financial kita. Termasuk financial bisnis juga harus memiliki tujuan. Sehingga langkah dan strategi kita bisa secara riil mengacu ke target. Di buku tersebut secara simple memberikan contoh-contoh yang sangat sering kita temui di kehidupan pribadi maupun bisnis

Pak Hantiar yang hadir pula banyak sharing tentang bagaimana secara praktis mencari konsumen serta mengklasifikasikan konsumen. Secara pareto akan terlihat bahwa 80% sales kita ternyata dikuasai oleh 20% konsumen. Sehingga fokus pada konsumen-konsumen yang memiliki konversi tinggi

Kunci utama bisnis :
1. Apakah anda ingin bisnis semakin maju, omzet meningkat, profit meningkat?
2. Apakah anda sudah mempunyai goal bisnis?
3. Apakah anda sudah menyusun plan dan strategi bisnis?
4. Apakah anda yakin dengan strategi yang diambil?
5. Bagaimana mengetahui strategi yang diambil berpengaruh terhadap penjualan / tujuan bisnis ?

untuk mewujudkan target yang telah kita tentukan kita harus memiliki kompas bisnis. Apakah mengetahui arah (dengan kompas) sudah cukup membantu? Jika itu tidak cukup, kita harus melengkapi diri dengan peta.
Kita harus mengetahu posisi kita, melihat dimana tujuan kita, dan menentukan jalur yang akan diambil. Pilihan banyak, mau lewat gang kecil, jarak tempuh lebih pendek.

Sekarang sudah ada GPS juga. Kita cukup duduk manis. Tentukan mau kemana, GPS secara otomatis membuat rute, memandu belok kiri kanan, di depan ada perempatan, enak kan?

Kembali ke tema awal, bagaimana kita bisa mengisntall GPS di bisnis kita?
Apa yang menjadi GPS di bisnis kita?

Menurut Pak Rosihan UKM haruslah naik kelas menjadi model korporasi. Tidak sekedar bicara beli dan jual, tetapi mampu melihat lebih luas peluang-peluang yang ada, dan mengkonversinya.
Tidak cukup ACTION, harus Strategic dan Smart Action!!!
Rumit? ini sangat sederhana : kunci bisnis sebenarnya hanya 3 faktor :
Produk, Harga, dan PelayananDengan kemampuan mengukur bisnis, maka entrepreneur akan lebih mudah memilih aktifitas bisnis, baik produk, sales, marketing dengan lebih efisien.

Pak Roni dan Pak Hantiar secara gamblang juga menjabarkan teknis memilah konsumen dan mengklasifikasikan menjadi ABCD. Dengan lebih fokus dan memahami siapa konsumen kita maka peluang mendapatkan profit lebih besar dan hemat energi. Kok bisa? nah itulah seni nya, seni berbisnis. Buatlah tarian yang indah,  ajaklah konsumen menari bersama, menikmati gerakan dan alunan nadanya. asyik sekali-kan……

Iklan

Satu pemikiran pada “Sharing TDA Jaktim : mengelola keuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s