Bicara bisnis property (1)

resort

Minggu kemarin cukup menarik berbisara property ini. Bagaimana pun property adalah penggerak ekonomi yang luar biasa. Sangat berbeda dengan investasi di pasar modal yang hanya menyentuh kalangan berduit, termasuk hot money dari luar. Misal ada suatu hedge fund membeli perusahaan di Indonesia, misalnya PT. Telkom. Mereka masuk dengan dana sekitar 1 Trilyun misalnya. Masuk lewat pasar modal. Pertanyaannya adalah :
1. Apakah uangnya dapat dimanfaatkan PT Telkom?
2. Siapa yang mendapat manfaat dari kenaikan harga saham PT Telkom setelah dibeli?

Uang yang mengalir masuk tersebut ternyata tidak saja HOT, tapi VERY HOT. Karena mudah masuk dan keluar. Investasi dengan membeli saham telkom juga tidak serta merta bermanfaat secara langsung bagi telkom. Uangnya juga tidak mengalir untuk bikin saluran telepon di desa ujung.
Yang pasti untung adalah pemilik saham telkom, yang notabene juga orang berduit juga kan. Memborong saham telkom oleh Fund pasti juga akan diikuti oleh trader maupun investor lain, sehingga harga akan terus merangkak naik. Setelah harga tinggi investor gadungan tadi dengan mudah pula menjual saham di pasar, kabur membawa untung.

Skenario diatas bisa terjadi dalam jangka 1 tahun, 1 bulan, mungkin pula hanya 1 jam!!!

Itulah pasar modal, sehingga jangan mengagung-agungkan pasar modal. Tidak ngaruh ke masyarakat bawah. Kayanya omongan sejenis pernah juga dilontarkan JK waktu ditanya masalah neoliberalisme.

ini ngomong kok ngelantur, katanya ngomong property…..

Terinspirasi dari program malaysia my 2nd home, dimana pemerintah malaysia memberikan dan memanjakan orang asing untuk menjadikan malaysia sebagai rumah kedua mereka, atau yang mau pensiun. Bukannya ikut ikutan negara yang lagi banyak masalah sama militer indonesia sih, tapi dari data, ternyata orang jepang yang pensiun memilih pindah di australia. Mereka mencari kebebasan dan kenikmatan hidup yang baru. Mungkin sangat jenuh hidup di kota-kota jepang yang padat, tinggal di apartemen, kecil, sumpek. Dan memilih pindah tinggal di australia.

Kenapa tidak pindah di indonesia saja?

Indonesia kaya akan sumberdaya, kaya akan pulau, kaya akan sumberdaya manusia juga. Kenapa mereka tidak memilih saja pensiun di Indonesia. Misalnya dibuat suatu resort terintegrasi yang nyaman, enak, fasilitas lengkap. Mereka harus membangun juga kan. Kalau membangun resort, sektor bisnis riil akan ikut bergerak. Pabrik semen jalan, dibutuhkan ratusan bahkan ribuan kuli, emak yang buka warung makan, ibu yang jualan sembako dan sabun. Dan ini riil ke rakyat juga.

Mana bicara bisnis property – nya?

bentar lagi ya…….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s